Main Menu

Ahmad Riza Patria: Gerindra Berorientasi Proses, Bukan Hasil

Andhika Dinata
21-07-2018 13:18

Ketua DPP Gerindra Ahmad Riza Patria.(ANTARAnews/re1)

Jakarta, Gatra.com - Partai Gerindra termasuk partai yang kurang beruntung dalam ajang Pemilihan Gubernur (Pilgub) di Pilkada Serentak 2018. Partai naungan Prabowo Subianto itu dilihat dari sigi hasil hitung cepat KPU hanya mengantongi kemenangan di tiga (3) wilayah yakni: Sumatera Utara (Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah), Kalimantan Timur (Isran Noor-Hadi Mulyadi), Maluku (Murad Ismail-Barnabas Orno). Oleh banyak kalangan, sedikitnya kemenangan yang dicapai parpol pemenang ketiga Pemilu 2014 itu menyisakan pertanyaan. Masihkah mesin partai Gerindra bekerja?

Ketua DPP Gerindra Ahmad Riza Patria menerangkan capaian di Pilkada 2018 menjadi terminasi bagi Gerindra untuk mempersiapkan perhelatan politik pada Pileg dan Pilpres 2019 mendatang. Riza menyebutkan dalam kontestasi Pilkada para kader sudah bekerja keras. Apa yang dicapai Gerindra kali ini terang Riza baru warming up, yang tujuannya untuk memanaskan mesin partai. “Kita jadikan ini sebagai momentum untuk menguji struktur dan menguji mesin partai. Dan Pilkada ini juga kita jadikan kesempatan memanaskan struktur dan mesin partai,” terang politisi yang juga Wakil Ketua Komisi II DPR itu kepada GATRA.com.

Dirinya menerangkan yang terpenting dalam kontestasi politik adalah proses, bukan hasil. Baik para calon yang diusung maupun para kader menurut Riza mampu menampilkan Demokrasi yang sehat, jujur, dan bermartabat. “Yang penting itu adalah proses Pilkada itu berlangsung baik, dan memberikan dampak positif bagi partai yaitu terjadinya konsolidasi partai yang baik, penyempurnaan struktur partai, mesin partai efektif-efisien, itu sangat penting,” katanya.

Dalam rangka memanaskan mesin partai, kader dan elite Gerindra mampu mengkampanyekan misi politik secara baik melalui calon Kepala Daerah yang diusung. Yang terpenting dari itu Gerindra menurutnya tampil “bugar” dengan mengusung kembali Ketua Umumnya Prabowo Subianto sebagai capres dalam kontestasi Pilpres 2019 mendatang.

“Mesin partai kita membumi, tagline-tagline Gerindra dapat diterima oleh masyarakat. Kemudian elemen-elemen pemenangan, ormas dan simpatisan itu bersinergi positif, itu jauh lebih penting”. Dalam beberapa titik wilayah pada Pilkada 2018 ini terang Riza partainya lebih mengutamakan mengusung kader dengan kalkulasi dan perhitungan sendiri.

Menurut Riza, Gerindra berorientasi pada proses bukan semata hasil. “Daripada kita menang lebih pada figur tapi tidak didukung oleh mesin partai, tidak didukung oleh sinergi antar komponen yang ada, itu jelas tidak menguntungkan”. Itu mengapa menurutnya Gerindra berani memunculkan kader sendiri, tokoh-tokoh baru yang kurang populer, untuk memunculkan iklim kontestasi yang baik dan memunculkan gairah di tingkat kader.

Hal itu terlihat dari upaya taktis Gerindra mengusung Sudrajat sebagai Cagub Jawa Barat dan Sudirman Said sebagai Cagub Jawa Tengah. Keduanya, meski kalah, mempunyai raihan suara yang siginifikan. Bahkan mampu melampaui prediksi suara dan elektabilitas yang ditakar oleh banyak Lembaga Survei. Mengusung calon yang tidak populer menurutnya menjadi momentum dan “batu uji” bagi partainya untuk menggerakkan seluruh elemen dan sumber daya.

“Memang calon yang kita usung adalah calon-calon yang popularitasnya tidak sebesar calon-calon lain. Itu kita sadari sejak awal. Seperti Pak Sudrajat orang baik, berintegritas, cakap, pintar, sekolahnya sampai di Harvard. Tapi kan tidak sepopuler Deddy Mizwar yang artis, yang Wakil (Gubernur),”katanya. Menurut Riza, kriteria pemimpin yang disyaratkan Gerindra tidak cukup menang sosok atau figur. Tetapi juga tokoh yang memiliki track record, integritas dan kompetensi yang baik.

“Nilai positif ini penting bagi kami dalam rangka membesarkan partai di daerah tersebut dan juga dalam rangka persiapan Pilpres 2019,” tandasnya.**



Reporter : Andhika Dinata

Editor: Rosyid

Andhika Dinata
21-07-2018 13:18