Main Menu

DKI Minta LRT Terintegrasi KRL

Arif Prasetyo
11-09-2015 17:29

Light Rail Transit (GATRAnews/Adi Wijaya)

Jakarta, GATRAnews- Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok meminta kereta ringan atau "light rail transit" terintegrasi dengan moda transportasi lainnya, yakni kereta "commuter line" (KRL), sehingga memudahkan penumpang dalam penggunaan satu tiket.


"Saya harap bisa menyambung juga dengan (kereta yang dioperasikan) KCJ, supaya bisa 'single ticket'," ujar Basuki di Kementerian Perhubungan, Jakarta, Jumat (11/9).

Basuki mengatakan, dengan tersambungnya sistem antarmoda tersebut, diharapkan bisa menyambungkan seluruh moda transportasi kereta di Jabodetabek, agar permasalahan transportasi terutama kemacetan, bisa terselesaikan.

"Buat kami bukan persoalan untung ruginya (pemberlakuan satu tiket), kita juga tidak ingin mempunyai bisnis, kita ingin permasalahan transportasi di Jakarta selesai," kata Ahok sapaan Basuki seperti dikutip Antara.

Untuk itu, Ahok mengatakan, pihaknya meminta Kementerian Perhubungan untuk melakukan lelang untuk menyamakan persepsi tersebut agar terwujud sistem kereta terintegrasi.

"Kita samakan persepsi dengan Pak Jonan (Menteri Perhubungan), dalam Kepressnya Nomor 99 Tahun 2015, saya diperbolehkan untuk lelang, tapi saya juga boleh meminta Kemenhub untuk melakukan lelang, supaya kereta ini seluruhnya 'nyambung'," jelas mantan Bupati Belitung Timur.

Upaya itu, lanjut Ahok, agar infrastruktur, sarana, persinyalan termasuk koridor sama. "Termasuk bisa saling lewat relnya, sehingga deponya bisa saling pinjam. Kita sudah bertemu, sudah membentuk tim bersama," katanya.

Ahok mengatakan Kemenhub yang akan menentukan syarat untuk ukuran depo, fondasi, lebar rel dan lainnya.

"Desain nanti dari Kemenhub mau dibuat seperti apa, kita harus menentukan trase karena trase ini dari Kemenhub, teknisnya kita serahkan ke Kemenhub. Hak pemrakarsa PT Pembangunan Jaya kita hapuskan, Jakpro juga. Kita ingin segera 'groundbreaking'," jelas Ahok.

Pembangunan LRT dibagi menjadi dua tahap, di antaranya LRT tahap pertama mencakup tiga trase, yaitu Cibubur-Cawang sepanjang 13,7 kilometer, Cawang-Dukuh Atas sepanjang 10,5 kilometer (Tahap I A) dan Bekasi Timur-Cawang sepanjang 17,9 kilometer (Tahap I B).

Untuk tahap kedua, panjang total lintasan LRT mencapai 41,5 kilometer. Tahap kedua itu meliputi lintas layanan Cibubur-Bogor, Dukuh Atas-Palmerah-Senayan, Palmerah-Grogol.

Sementara itu, daya angkut harian dengan konfigurasi 6 train set adalah 24.000 PPHD head way dua menit saat peak. Kecepatan operasi LRT mencapai 60-80 kilometer per jam.

Pembangunan LRT itu sudah diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2015 tentang Percepatan Kereta Api Ringan atau Light Rail Transit Terintegrasi di Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi serta Rencana umum jaringan kereta api itu tertuang dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 54 Tahun 2015.

Dalam aturan itu disebutkan bahwa PT Adhi Karya Tbk ditunjuk sebagai badan usaha yang akan membangun prasarana LRT. Untuk tahap pertama pembangunan LRT, nilai investasi ditaksir sekitar Rp11,9 trilyun atau separuh dari total proyek LRT yang dibangun Adhi Karya, yakni Rp 23,8 trilyun.

Selain Adhi Karya, proyek LRT digagas oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Proyek LRT dari Pemprov DKI direncanakan meliputi tujuh koridor LRT, yakni Kebayoran Lama-Kelapa Gading (21,6 kilometer), Tanah Abang-Pulomas (17,6 kilometer), Joglo-Tanah Abang (11 kilometer), Puri Kembangan-Tanah Abang (9,3 kilometer), Pesing-Kelapa Gading (20,7 kilometer), Pesing-Bandara Soekarno-Hatta (18,5 kiloemter), dan Cempaka Putih-Ancol (10 kilometer).

Pembangunan tahap pertama akan selesai pada akhir 2017, dan alat transportasi tersebut diharapkan bisa beroperasi pada awal 2018.


Editor: Arief Prasetyo

Arif Prasetyo
11-09-2015 17:29