Main Menu

Sebanyak 18 Bayi di Riau Dirawat Akibat Paparan Asap

Tian Arief
08-10-2015 16:41

Bayi korban asap yang dievakuasi ke Kantor Walikota Pekanbaru, Riau (ANTARA/FB Anggoro)

Kuantan Singingi, GATRAnews - Sebanyak 18 bayi di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit umum daerah setempat, akibat terpapar berat asap kebakaran hutan dan lahan. "Hingga saat ini RSUD sudah menangani puluhan anak-anak dan bayi yang terkena dampak kebakaran lahan dan hutan," kata Detri Elvira, Kepala Bidang PMK Dinas Kesehatan Kuantan Singingi, di Teluk Kuantan, Kamis (8/10).

Bayi dan anak-anak, katanya, lebih beresiko tinggi terhadap paparan asap kebakaran hutan dan lahan ketimbang orang dewasa. "Kami berikan pelayanan maksimal," ujarnya kepada Antara.

Dia menuturkan, beberapa bayi masuk ruangan ICU karena harus diberi bantuan pernafasan bahkan ada bayi baru berumur 11 bulan yang telah dirawat.  "Jika ke depan masih rawan asap, maka tidak menutup kemungkinan jumlah anak yang berobat bertambah," jelasnya.

"Kabut asap ini tidak bisa lagi diatasi dengan masker gratis dari Dinas Kesehatan tetapi harus pakai masker yang kualitas terbaik," ujar Hendri, salah seorang warga Lubuk Ambacang.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi IV DPR Siti Hediati alias Titik Soeharto mengatakan, pemerintah tak perlu malu atau gengsi menerima bantuan dari negara lain untuk mengatasi kabut asap yang terjadi di Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan.

"Saya tahu pemerintah sudah berbuat sesuatu tapi tidak maksimal. Kalau perlu bantuan, terima bantuan itu karena Singapura punya pesawat, punya alat-alat yang bisa bikin hujan buatan, ya terima aja, masak nunggu rakyat kita mati, baru terima bantuan. Jangan gengsilah untuk menyelamatkan bangsa ini," kata dia.

Selama ini hanya ada 25 unit pesawat terbang dan helikopter untuk menanggulangi hampir 2.000 titik asap di kedua pulau besar Indonesia itu. Satu helikopter diketahui hanya mampu menerbangkan sekitar empat ton air untuk diguyur di titik kebakaran.

Titik menyayangkan pernyataan Presiden Jokowi yang disampaikan Menteri Sekretaris Kabinet, Pramono Anung, bahwa presiden sedang mengamati masalah kabut asap ini.

Sementara korban-korban jiwa terkait langsung atau tidak langsung dari paparan asap kebakaran hutan dan lahan ini sudah berjatuhan, belum lagi dampak di negara-negara tetangga.

"Katanya presiden sedang mengamati. Loh kok diamati? Kalau diamati keburu mati. Masak tega banget sih. Bertindak dong! Kabut asap ini bisa ditanggulangi secepatnya karena ini pembunuhan secara perlahan-lahan dan ini pembunuhan massal kalau didiamkan saja," kata dia.

Tentang penanggulangan dari sisi kesehatan manusia, Menteri Kesehatan, Nila Moeloek, telah menyatakan, pemerintah sudah mengantisipasi; telah menyalurkan lebih dari 20.000 ton perlengkapan kesehatan, di antaranya masker-masker kepada penduduk yang terpapar asap.


Editor: Tian Arief

Tian Arief
08-10-2015 16:41