Main Menu

Kawin Sejenis Nodai Hindu

Dani Hamdani
10-10-2015 16:28

Upacara Krama Cleansing kepada pasangan Tiko dan Tully (Dok GATRAnews)

[quote width="auto" align="left" border="red" color="blue" title="I Ketut Parwata"]Ritual beratribut Hindu untuk perayaan perkawinan sesama pria di Bali berujung penjeratan pasal penodaan agama. "Ajaran Hindu dan adat Bali melarang perkawinan sejenis. Perkawinan bertujuan melahirkan keturunan sebagai jalan bagi ruh leluhur untuk reingkarnasi, guna memperbaiki kesalahan masa lalu."[/quote] 

------------

Jakarta, GATRAnews  -  Geger perkawinan sejenis di Bali bermula dari unggahan beberapa foto oleh akun Facebook (FB) atas nama Ali Subandoro, medio September lalu.

"The most beautiful moments of the wedding ...I am so very happy for both of you ...Nothing beats Mom's blessing and you're both very lucky have such a loving and accepting Mom.. #loveknowsnolimits." Demikian status Ali Subandoro yang di-tag ke akun FB Tiko Mulya dan Joe Tully.  

 

Tiko Mulyawarko, 41 tahun, warga Indonesia, dan Joseph Michael Tully, 52 tahun, warga Amerika Serikat, adalah pasangan suami-istri sesama jenis kelamin laki-laki itu. Dalam salah satu foto, tampak sosok tua rohaniawan Hindu (Pemangku), berkostum serba putih, dari ikat kepala sampai sarung.

 

Sang Pemangku berdiri menghadap kamera. Tiko dan Joe berhadapan di depan Pemangku. Tiko membaca secarik kertas di tangan kiri. Tangan kanannya memegang mikrofon. 


Upacara di Hotel Four Seasons, Banjar Kutuh, Desa Sayan, Ubud, Gianyar, Bali itu memberi kesan bahwa seolah-olah perkawinan sejenis direstui adat Bali dan disahkan ajaran Hindu, agama anutan mayoritas penduduk Bali.

 

Desember 2014, pasangan ini menghubungi hotel agar bisa menggelar upacara pernikahan. Saat itu, permintaan ditolak. Enam bulan kemudian, Juni 2015, pasangan ini menanyakan paket ritual Karma Cleansing.  

 

Paket tersebut untuk pasangan, konteksnya, suami istri. Disepakatilah jadwal pada 12 September, pukul 16.30 - 21.00 WITA, dihadiri 30-an orang. Kasus ini menuai reaksi luas. Mulai rakyat kebanyakan, pemuka adat, tokoh agama Hindu, pejabat dari bupati sampai Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika, menyuarakan keberatan.

 

Bupati Gianyar mengumpulkan para pelaku wisata agar berhati-hati dalam menawarkan paket wisata dengan simbol agama. 


Dari Jakarta, Dirjen Bimbingan Masyarakat Hindu, Kementerian Agama (Kemenag), Prof. I Ketut Widnya, memerintahkan Kantor Wilayah Kemenag di Bali, untuk mengumpulkan berbagai informasi di balik foto-foto itu.

 

Bukan hanya tokoh dan pejabat bidang agama yang bereaksi, aparat penegak hukum pun bergerak. Polres Gianyar diam-diam menyelidik. Dari sekian reaksi publik yang mengemuka, muncul beberapa opini agar dalam kasus ini diterapkan pasal penodaan agama.  


SE Four Season Jadi Tersangka

Dua pekan kemudian, 29 September, Polres Gianyar menetapkan Ni Nyoman Mulyani, 36 tahun, sebagai tersangka. Sales executive di Hotel Four Season itu dijerat Pasal 156a butir a KUHP tentang penodaan agama. Ancamannya, kurungan maksimal lima tahun.

 

Penyidik menyebut Mulyani menawarkan jasa paket upacara Krama Cleansing kepada pasangan Tiko dan Joe. Prosesi pembersihan diri itu disebut melukat atau pengelukatan. 

 

Sebelum menetapkan tersangka, polisi berkoordinasi dengan Pemkab Gianyar dan meminta pandangan saksi ahli dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Majelis Madya Desa Pakraman (MMDP) dan tokoh masyarakat setempat.

 

Dari penyelidikan tersebut, Kapolda Bali Irjen Polisi Sugeng Priyanto, kepada GATRA, menjelaskan, telah diperoleh kesimpulan bahwa upacara yang dilakukan tidak sesuai dengan norma dan ajaran agama Hindu.  

 

Pertama, agama Hindu tidak melegalkan pernikahan sesama jenis. Kedua, upacara yang digelar dengan atribut agama Hindu itu dapat dikategorikan sebagai tindakan penistaan agama.

 

"Penjelasan yang kita peroleh dari tokoh adat dan perspektif Hindu, kejadian di Four Season itu tidak sesuai dengan norma agama Hindu sendiri," kata Sugeng Prayitno.  


Setelah menersangkakan Mulyani, kata Sugeng, tak tertutup kemungkinan, polisi akan menetapkan pelaku pernikahan (Joe dan Tiko) sebagai tersangka. Tapi pasangan itu kabur sejak 12 September.

 

"Kita akan kejar lagi untuk kita periksa bersama yang satunya ini (Mulyani)," kata Sugeng. "Keterangan yang kita dapat, mereka sudah menikah di Amerika. Kedatangannya ke Indonesia, untuk melakukan semacam perayaan," ujarnya. 

 

Dalam gelar perkara, polisi tetap minta pandangan tokoh agama dan pemuka adat agar tidak salah dalam menyimpulkan kasus. "Kita minta pandangan mereka tentang upacara pembersihan yang namanya pengelukatan itu, sehingga semuanya satu pandangan," kata Kapolda Bali.

"Sepengetahuan saya ini yang pertama (di Bali), kalau ada informasi lain-lain tolong dilaporkan segera," ujarnya. 

 

Saat GATRA menghubungi Hotel Four Seasons di Ubud, manajemen menyarankan untuk menghubungi Four Seasons pusat di Jimbaran. Namun humas hotel di Jimbaran ini tak mau memberikan pernyataan apa pun. 

 

GATRA juga meminta konfirmasi tentang paket perayaan pernikahan sejenis. Lagi-lagi, humas hotel tetap menolak berkomentar. "Terima kasih sudah mem-follow up masalah ini, tapi sampai saat ini kami tidak dapat mengeluarkan statement apa pun dan tidak dapat berkomentar," ujar staf hotel itu kepada Umaya Khusniah dari GATRA. 


Menikah Tak Mau Punya Anak pun Tak Dibenarkan 

 

Sekretaris Umum PHDI, I Ketut Parwata, menjelaskan, dalam ajaran Hindu, tujuan menikah adalah untuk mendapatkan keturunan. Perkawinan sejenis tak akan melahirkan keturunan, maka Hindu tidak membenarkan.

 

"Bahkan kalau ada pasangan menikah yang tidak mau punya anak, itu tidak dibenarkan," kata Ketut Parwata kepada GATRA di kantor PHDI, Jakarta Barat. 

 

Dalam salah satu srada (keimanan) Hindu ada reinkarnasi. Pemeluk Hindu harus memberi peluang kepada roh yang untuk bisa menjelma kembali ke dunia, untuk memperbaiki kesalahan dalam kehidupannya terdahulu. Tujuan perkawinan adalah memberikan peluang kepada para leluhur untuk mengulangi kehidupannya demi memperbaiki kehidupannya.

 

"Jika itu kita tutup, berarti kita menghalangi peluang orang untuk memperbaiki diri," sebut kata lagi. 


Digambarkan di Kerta Gosa, Klungkung, Bali, roh ibu yang tidak punya anak nanti menyusui ulat. Ketut Perwata menilai kasus ini merupakan salah satu sisi negatif pariwisata Bali.

 

Ada yang menjual paket yang disenangi seseorang. Baik paket adat maupun paket agama. Adat Bali dan agama Hindu, kata Ketut Perwata, tak bisa dipisahkan lagi.  

 

"Untuk menjadi ibu, wanita diciptakan dan untuk menjadi ayah, laki-laki diciptakan, karena itu upacara kaagamaan ditetapkan dalam veda untuk dilaksanakan oleh suami (pria) bersama istri (wanita)." Begitu bunyi kitab Manawa Dharmasastra Bab IX sloka 96 yang tidak memberikan pembenaran kawin sejenis. Kitab yang berlaku sebagai undang-undang pada masa Majapahit itu masih jadi rujukan hukum perkawinan Hindu saat ini. 


I Ketut Widnya, Dirjen Bimas Hindu Kemenag, menyatakan, dalam perspektif Hindu, perkawinan sejenis tidak sesuai dengan peradaban dan etika kemanusiaan secara general.

 

"Pemilik hotel yang membuat acara seperti itu jelas melecehkan agama dan adat Bali. Perkawinan secara adat Bali sangat malarang kawin sejenis. Dalam Agama Hindu juga dilarang," kata guru besar Institut Hindu Dharma Indonesia Negeri (IHDN) Denpasar ini. 

 

Ketut Widnya minta aparat hukum tidak saja menindak pemilik hotel, namun juga menyeret pelaku (pasangan sejenis) ke ranah hukum. Ia meminta tokoh lintas agama untuk bersikap dan mengecam prilaku ini. Sepengetahuannya, kasus ini pertama terjadi di Bali. 

 

Menurut Ketut Widnya, kitab suci atau mantra-mantra veda, tidak mengajarkan kawin sejenis. Catur Veda Samhita dalam Regveda menyebutkan, seorang pengantin laki-laki mengatakan, bukalah vaginamu, aku akan membuahinya. "Itu jelas makna perkawinan antara laki dan perempuan. Banyak lagi di mantra lain pada Regveda menyebutkan perkawinan itu antara laki-laki perjaka dengan gadis perawan," kata doktor dari Universitas Delhi, India ini.  

 

Mahatma Gandhi, kata Widnya, pernah berfatwa, perkawinan sejenis tidak beradab. "Untuk meluruskan ajaran Hindu yang dilecehkan ini, kami dalam waktu dekat bikin seminar. Para tetua adat, budayawan, sejarawan dan tokoh agama akan bicara. Sebab citra Hindu, utamanya di Bali, mulai disorot negatif oleh negara luar," kata Widnya berapi-api.  



Asrori S. Karni, Andhika Dinata, Flora Libra Yanti, dan Joni Aswira Putra  

AGAMA, Majalah GATRA no 49 tahun ke XXI, Beredar Kamis, 8 Oktober 2015

Dani Hamdani
10-10-2015 16:28