Main Menu

GSBI Kecam Aksi Kekerasan Polisi pada Aksi Damai GAAs

Iwan Sutiawan
02-11-2015 08:16

Ilustrasi (GATRAnews/dok)

Jakarta, GATRAnews - Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI) mengecam keras tindakan aparat kepolisian yang menggunakan cara-cara kekerasan terhadap massa aksi dari Gerakan Anti-Asap (GAAs) di Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng).

"Mengecam keras tindakan aparat kepolisian yang membubarkan dan menangkap empat orang dalam aksi damai di Palangka Raya, pada 31 Oktober 2015. Hentikan berbagai bentuk kekerasan terhadap rakyat!" tegas Rudi HB Daman, Ketua Umum GSBI, di Jakarta, Senin (2/11).

Selain itu, GSBI juga menuntut pihak kepolisian setempat untuk segera membebaskan aktivis yang ditangkap tanpa syarat. Kemudian, menuntut pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) segera menangani persoalan asap, mengevakuasi korban asap, merawat korban asap secara gratis tanpa syarat, dan menghentikan pembakaran hutan untuk kepentingan perluasan perkebunan.

"Kami juga menyerukan kepada seluruh rakyat di Indonesia, untuk terus memperkuat persatuan, menggalang solidaritas di antara sesama kaum tertindas untuk terus melawan terhadap berbagai kebijakan yang dilahirkan oleh pemerintahan Jokowi-JK," ujarnya.

Rudi mengungkapkan, setelah aksi buruh di depan Istana Merdeka, Jakarta, menuntut pencabutan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan, di mana sedikitnya 24 orang sempat ditahan di Polda Metro Jaya, aksi serupa terjadi di Kalimantan Tengah.

Aksi damai rakyat yang tergabung dalam GAAs di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, (31/10), mendapatkan tindakan represif dari aparat kepolisian. Polisi menangkap empat aktivis yang terlibat dalam aksi tersebut.

"GAAs adalah aliansi rakyat yang selama ini terlibat dalam kampanye dan advokasi untuk masalah asap, terdiri dari berbagai organisasi di antaranya FMN, GMNI, Walhi, Himpunan Mahasiswa dan Pemuda Hanau, Himpunan Mahasiswa dan Pemuda Kabupaten Katingan," kata Rudi.

Aksi itu dilakukan bertepatan dengan kedatangan Presiden Jokowi ke Palangkaraya, terkait dengan masalah asap yang sudah berlangsung selama tiga bulan terakhir. Aspirasi damai ini digelar untuk menyampaikan secara langsung kepada presiden agar memberikan perhatian serius terhadap korban asap.

Menuntut pemerintah memberikan bantuan gratis tanpa syarat kepada korban asap, serta menghentikan pembakaran hutan yang akan digunakan sebagai perluasan perkebunan sawit di Indonesia.

Pihak kepolisian meminta GAAs menghentikan aksi yang berlangsung tertib dan damai tersebut itu. Meski negosiasi masih dilakukan agar aksi tetap bisa dilanjutkan, namun aparat kepolisian dengan beringas langsung membubarkan massa aksi dengan menggunakan pentungan rotan.

"Empat orang ditangkap oleh pihak kepolisian dan langsung dibawa ke kantor kepolisian. Sementara massa aksi lainnya bertahan di kampus Universitas Palangka Raya," tutur Rudi.

Menurutnya, tindakan represif dan penangkapan ini, semakin membuktikan, bahwa pemerintahan Jokowi adalah rezim fasis, yang senantiasa siap untuk menggunakan aparat kekerasan negara untuk membubarkan aksi-aksi demokratis yang dilakukan oleh rakyat.

Kejadian di Jakarta dan Palangka Raya dalam waktu yang beruntun, menunjukkan bahwa jalan kekerasan adalah pilihan bagi pemerintahan Jokowi untuk meredam suara-suara rakyat yang menginginkan perubahan di negeri ini.


Reporter: Iwan Sutiawan
Editor: Tian Arief

Iwan Sutiawan
02-11-2015 08:16