Main Menu

Dampak Terhentinya Produksi Kilang di Bojonegoro Sangat Serius

Iwan Sutiawan
16-03-2016 19:31

Kilang minyak Blok Cepu di kota Bojonegoro (Antara/Arief Prasetyo/yus4)

Jakarta, GATRAnews - Dampak tidak beroperasinya kilang minyak mini milik PT Tri Wahana Universal (TWU) sejak Januari 2016 sangat serius, baik terhadap pemerintah kabupaten (Pemkab) maupun warga Bojonegoro, Jawa Timur (Jatim).

Kepala Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial (Disnakertransos) Bojonegoro, Adi Wicaksono, kepada wartawan, Rabu (16/3), mengatakan, sekitar 650 tenagar kerja terancam menganggur jika kilang minyak itu tidak beroperasi lagi.  

Kilang minyak mini milik PT TWU itu sudah tidak berproduksi sejak 20 Januari 2016, atau sekitar dua bulan, karena tidak mendapat pasokan minyak mentah mulai 16 Januari, atau 4 hari sebelumnya.

Terhentinya pasokan itu karena masih menunggu kepastian formula harga sumur dan pasokan minyak mentah untuk kilang mini TWU yang dibangun dekat mulut sumur lapangan Banyu Urip. Akibatnya timbul multiplier effect yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja bagi masyarakat Bojonegoro dan Jatim.

Adi mengungkapkan, tenaga kerja di kilang minyak mini milik PT TWU sendiri tercatat sekitar 200 orang, yang sebagian besar merupakan warga Bojonegoro. Sementara di luar TWU, terdapat lebih dari 400 tenaga kerja tidak langsung yang tergabung dalam perusahaan transporter.

Menurut Adi, angka di atas belum termasuk tenaga kerja pada perusahaan supplier dan kontraktor yang memberikan jasa untuk operasional PT TWU. Selain itu, terdapat tenaga kerja informal di sekitar perusahaan, seperti warung dan toko.

Berdasarkan kajian Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada (UGM), terdapat sekitar 5.300 tenaga kerja yang tercipta di tingkat kabupaten Bojonegoro dari adanya kilang minyak mini PT TWU.

Jika kilang mini itu tidak beroperasi lagi, maka ribuan tenaga kerja itu akan menjadi pengangguran. Terhentinya produksi sekitar 2 bulan pun telah terjadi perubahan mencolok dan berbagai efek ikutannya.

"Sejak terhentinya produksi TWU, tampak perubahan mencolok bila dibandingkan saat kilang masih berproduksi dengan saat ini. Kelihatan sekali dampaknya kalau masuk ke wilayah sini, tadinya banyak tangki minyak berseliweran, sekarang suasananya sepi," ujar Adi.

Akibatnya, para pemilik warung dan usaha lainnya pun terpaksa tutup. "Begitu TWU ini tutup dan tidak beroperasi, mereka tidak punya pekerjaan. Sepertinya Bojonegoro sudah jatuh tertimpa tangga," kata Adi.

Keberadaan kilang minyak mini PT WTU membawa dampak positif, di antaranya menyerap tenaga kerja serta menggerakan roda perekonomian, khususnya di Kabupaten Bojonegoro.


Reporter: Iwan Sutiawan
Editor: Tian Arief

Iwan Sutiawan
16-03-2016 19:31