Main Menu

Produksi Tahu Kalisari Terganggu Dampak Lumpur PLTP Banyumas

Rosyid
25-01-2017 16:39

Banyumas, GATRAnews – Ratusan pengusaha tahu di desa Kalisari Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah terganggu akibat tercemarnya aliran sungai oleh lumpur pembangunan jalan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) lereng Gunung Slamet, Banyumas.

Kepala Desa Kalisari Aziz Samsuri mengatakan seluruh pengrajin tahu yang berjumlah 240-an orang memanfaatkan sungai itu sebagai sumber pasokan air bersih. “Karena kan produksi tahu itu pakai air semuanya. Kalau air keruh ya jelas terganggu lah,” kata Aziz saat dihubungi GATRAnews, Rabu (25/1).

Aziz mengatakan pengrajin tahu di desanya terpaksa menyimpan air bersih dalam jumlah banyak untuk diendapkan terlebih dahulu sebelum dipakai untuk merendam kedelai dan membersihkan kotoran. Air sungai harus diendapkan karena Jika tidak, tahu yang diproduksi terancam gagal. Sebab, air yang digunakan dalam produksi tahu harus higienis dan benar-benar bening. “Ini cukup menganggu para pengrajin tahu. Ada juga pengrajin tahu yang memilih mengurangi produksinya,” tuturnya.

“Aliran sungai turut terpapar lumpur dari pembangunan jalan ke pusat pengeboran PLTP,” ungkapnya. Pihaknya sudah melaporkan keruhnya air ini ke Posko yang didirikan pelaksana proyek PLTP pada Sabtu lalu. Phak PLTP, meminta diberi waktu hingga sepekan untuk menjernihkan aliran sungai.

“Saya sudah mengadukan secara pribadi, maupun secara kedinasan desa, mereka meminta waktu seminggu untuk membangun instalasi penanggulangan lumpur,” jelasnya.

Selain berdampak pada produksi tahu, aliran sungai yang kotor juga menyebabkan suplai air ke kolam warga di Desa Kalisari tercemar. Air menjadi keruh dan dikhawatirkan menganggu kesehatan ikan. “Kalau sampai ikan sekolam mati semua sih belum ada laporan. Tetapi ya cukup mengganggu karena airnya jadi keruh,” tukasnya.

Aziz mengaku mendapat informasi kematian massal ikan di kolam warga di Desa Karangtengah dan Sambirata yang lokasinya berada di wilayah hulu Sungai Krukut. “Kalau di desa Karangtengah iya, informasinya ikan di kolam pada yang mati,” ungkapnya.

Sementara itu, Project Commitee PT SAE, Paulus Suparno dihubungi GATRAnews  akhir pekan kemarin mengatakan pihaknya tengah melakukan upaya pengurangan dampak pencemaran air. Antara lain, dengan membangun kolam penampung lumpur (ponds), pengerasan jalan menggunakan batu koral serta akan membuat filter untuk dipasang di aliran sungai.

“Kami sudah menghentikan pembangunan jalan. Yang kami lakukan adalah mempercepat pengerasan jalan dengan menutupnya dengan koral. Itu agar tanah tidak hanyut terbawa air hujan,” kata Paulus.

Diakui Paulus, sementara ini, sebanyak 11 Desa di dua Kecamatan, yakni Kecamatan Cilongok dan Ajibarang dilaporkan terdampak pembangunan jalan menuju pusat sumur panas bumi PLTP yang kini sudah mencapai 3,5 kilometer dari total sepanjang 6,5 kilometer. Lumpur tersebut muncul akibat adanya pengeprasan bukit dan perataan tanah dalam proses pembangunan awal jalan. Lantas, lumpur ini hanyut hingga ke desa-desa bagian hilir. “Kami berkomitmen untuk menanggulangi dampak lumpur. Kami juga membuka posko pengaduan agar masyarakat dampak-dampak lain bisa cepat tertangani,” jelasnya.



Reporter : Ridlo Susanto
Editor: Rosyid

Rosyid
25-01-2017 16:39