Main Menu

Nongkojajar Pusat Panen Apel Malang

Averos Lubis
16-03-2017 00:19

Malang, GATRAnews- Dahulu, kebanyakan orang mengenal apel Malang dari daerah Batu, Malang. Sekarang ini, petani buah Apel Malang sudah banyak berpindah lokasi ke Desa Sugro, Nongkojajar, Pasuruan, Jawa Timur.

 

Muin salah seorang petani apel Malang di Desa Sugro, Nongkojajar, menjelaskan memang petani apel Malang sudah berkurang  di daerah Batu. “Lokasi di Batu hanya menjadi tempat untuk menjual apel Malang saja,” ujarnya Selasa (13/3) di Malang.

 

Menurutnya, salah satu faktor penyebabnya adalah kontur tanah di Batu sudah mulai kurang bagus untuk memproduksi apel Malang dalam jumlah yang banyak. Meski demikian, banyak petani dari Desa Sugro Nongkojajar menjual hasil panen buahnya kepada pedagang untuk dijual ke daerah pariwisata di Batu. “Banyak wisatawan lokal maupun mancanegara masih mengenal apel Malang dari kawasan Batu,” ujarnya.

 

Adapun menurut peneliti dari Universitas Brawijaya Malang, Karuniawan Puji Wicaksono,  hal itu berdasarkan dari sudut pandangan lingkungan dan sudut pandang arah pembangunan pemerintah daerah. Menurutnya, ketika dicek dari data klimatologi selama 10-30 tahun lalu memang sudah ada indikasi perubahan iklim.

 

Sebab, ia menuturkan, ketika kecil dahulu bila dia pergi ke daerah Batu, Malang, banyak Warga datang menggunakan jaket. Nah,sekarang ini sudah banyak warga di sana justru memasang alat pendingin ruangan di rumahnya. "Berarti suhu itu sudah naik kira-kira 2-4 derajat celcius selama 10 tahun," ujarnya. “Sekarang ini perlu dilakukan penelitian lagi untuk memastikan perubahan iklim,” tambahnya.

 

Dia mengingatkan bahwa tanaman apel adalah tanaman introduksi yang dibawa oleh Belanda, bukan tanaman asli Indonesia. Sehingga daya saing tanaman apel Malang tidak dapat menandingi apel Washington walau menggunakan teknologi yang canggih. Itu pun, dia melanjutkan, sama halnya dengan ketika orang Amerika menanam rambutan, tidak sama dengan rambutan asli asal Indonesia.

 

"Artinya bila apel kita boost dengan teknologi yang mahal dengan input yang mahal, maka harga saingnya jadi rendah. Sehingga harganya tidak berimbang antara output dengan input," ujarnya.


Reporter : Averos Lubis

Editor : Taufik Alwie

Averos Lubis
16-03-2017 00:19