Main Menu

Ojek Online: Kami Salah Apa?

Fahrio Rizaldi A.
24-03-2017 08:55

Bentrok Pengemudi Angkot dengan Ojek Online (ANTARA/Arif Firmansyah)

Bogor, GATRAnews - Gelombang penolakan terhadap angkutan online mulai terjadi di wilayah Bogor kota dan kabupaten. Belum lama ini, dua orang pengemudi ojek online menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh pengemudi angkutan kota (angkot). Kejadian ini diceritakan oleh seorang pengemudi ojek online kepada GATRAnews, Selasa (21/3) malam.



"Kemarin teman kami dipukul pakai helm sama supir angkot, sampai helmnya pecah, wajahnya babak belur. Dia ngambil penumpang di sekolahan, ketemu angkot, terus dihajar sama supirnya, dan jaketnya dirobek. Kami salah apa," ungkap pengemudi ojek online yang enggan disebutkan namanya karena alasan keamanan.

Kejadian itu membuat pengemudi ojek online yang lain resah. Akibatnya seluruh pengemudi ojek dan taksi online di wilayah Bogor sepakat untuk melakukan sweeping kepada supir angkot yang melakukan kekerasan tersebut. "Kami tidak takut, kami sepakat melawan kalau diperlakukan begini. Jumlah kami lebih dari tujuh juta se Jabodetabek," ungkap pria berusia 52 tahun itu.

Dianggap Akal-akalan oleh Pengemudi Konvensional
Sebelumnya, sempat terjadi diskusi nonformal antara pengemudi angkutan online kepada pengemudi angkutan konvensional seperti ojek pangkalan dan angkot. Para pengemudi online menyarankan pengemudi konvensional beralih ke sistem mereka. Namun, upaya itu justru mendapatkan cibiran dari para pengemudi angkutan konvensional.

"Sudah pernah (diskusi dengan pengemudi konvensional), kami perlihatkan pekerjaan kamo seperti apa. Saya lihatkan kalau kami cuma dibayar lima ribu sampai enam ribu di bawah jarak lima kilo meter," jelasnya.

"Bahkan, saya suruh gantikan saya, pakai motor saya untuk antar penumpang biar mereka merasakan. Mereka nggak mau, alasannya terlalu murah, dan cuma akal-akalan. Loh, kan kurang ajar," jelas pengemudi ojek online itu.

Penumpang Pilih Ojek Online
Pertikaian antara angkutan konvensional dan online di wilayah Bogor sebenarnya sudah terjadi beberapa bulan belakangan.

Seperti yang terjadi di areal Stasiun Bojong Gede, pengemudi ojek pangkalan (opang) melarang ojek online mengambil penumpang di depan pintu masuk stasiun. Alhasil, penumpang yang memesan ojek online harus berjalan sejuah kurang lebih 500 meter ke arah kantor kelurahan Bojong Gede. "Penumpang rela kok jalan jauh untuk kami. Kami nggak boleh ngambil penumpang di depan stasiun, kami ngalah," jelasnya.

Lewat aplikasi online, penumpang mendapatkan informasi tentang identitas siapa pengemudi yang mengantar mereka. Hal ini menjamin keamanan dan kenyamanan penumpang. "Data kami dipegang mereka, penumpang itu bos kami. Kalau mereka komplain kami tidak bisa melawan. Bisa habis lah kita kalau dipecat," ungkapnya.



Reporter: Rizaldi Abror
Editor: Edward Luhukay

Fahrio Rizaldi A.
24-03-2017 08:55