Main Menu

Dampak Proyek PLTP Lereng Slamet Belum Tuntas

Rosyid
03-04-2017 14:44

Banyumas, GATRAnews - Dampak air keruh akibat pembangunan jalan proyek geothermal lereng selatan Gunung Slamet masih dirasakan oleh masyarakat di sejumlah desa di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, yang memanfaatkan aliran Sungai Prukut. Air berubah keruh terutama saat hujan deras melanda kawasan ini.

 

Petugas Monitoring Air Sungai PT Sejahtera Alam Energy (SAE) Suyono kepada GATRA mengatakan air keruh disebabkan longsornya sedimentasi akibat pembangunan jalan kala hujan turun di wilayah ini. Namun, dia mengatakan sepekan terakhir kondisi air kembali berangsur normal. Hanya saja, jika hujan deras turun, diakuinya air akan kembali keruh meski tak sekeruh pada awal pengerjaan jalan.
 
“Untuk kegiatan alat berat memang sudah dihentikan (sejak Januari-red). Cuma dari kemarin itu kan kegiatannya bikin Sedimen ponds (kolam penampung lumpur). Sudah satu minggu normal kembali. Tapi begitu hujan satu hari, datang lagi lumpur. Ya tanah-tanah itu, bekas alat berat, pada longsor,” kata Suyono.

PT SAE sebagai pelaksana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di lereng selatan Gunung Slamet masih terus membangun sekitar 74 sediment ponds' untuk menampung tanah dan material lain sisa pengerjaan jalan yang dilakukan oleh alat berat.

Sementara  rencana pembangunan penjernih air (filter) di sejumlah titik Sungai Prukut hingga kini belum terlaksana. Pihaknya terkendala perijinan dari Dinas Sumber Daya Air (SDA). Pasalnya, untuk mendapat ijin pembangunan itu, pihaknya harus mengantongi persetujuan masyarakat.

“Masyarakat tak mau ada pembangunan filter karena khawatir debit air akan berkurang. Filter tak akan mengurangi debit air. Filter hanya memperlambat aliran sungai saja,” jelas Suyono.

Dampak air keruh masih dirasakan oleh sebagian besar warga pemanfaat air dari hulu Sungai Prukut mulai Desa Karangtengah, Panembangan, Sambirata, Sokawera, Gununglurah, Kalisari, Pernasidi, dan Karanglo.
 
Air keruh juga masih berdampak di air terjun Curug Cipendok, anak sungai Prukut, irigasi hingga sarana prasarana air bersih sejumlah desa.

Padahal, Pelaksana Proyek pada pertengahan Januari 2017 lalu pelaksana proyek sempat menjanjikan air akan kembali jernih satu bulan setelah pengerjaan dihentikan atau sekira Februari 2017. Bupati Banyumas, Achmad Husein yang kala itu mengunjungi lokasi juga menjamin bahwa pelaksana proyek akan menghentikan pengerjaan jalan.


 




Reporter: Ridlo Susanto
Editor: Rosyid

Rosyid
03-04-2017 14:44