Main Menu

Aspehorti, Ikhtiar Petani Bali Wujudkan Ketahanan Ekonomi

Fahrio Rizaldi A.
08-05-2017 20:51

Bunga gemitir hasil pertanian petani Bali (GATRAnews/Rizaldi Abror)

Tabanan, GATRAnews - Tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia sebagai negara agraris mengalami penurunan produktivitas di sektor pertanian. Hal ini tak lain diakibatkan oleh minimnya regenerasi petani. Selama ini profesi petani dipandang sebelah mata dan tidak dianggap menarik oleh generasi muda.

Kondisi ini juga terjadi di pulau dewata Bali. Gemerlap sektor pariwisata yang menjadi primadona di pulau ini, membuat generasi muda semakin meninggalkan sektor pertanian. Padahal, budaya pertanian Bali, yaitu sistem Subak sudah diakui sebagai warisan budaya oleh Unesco.

Kenyataan ini menjadi kebimbangan besar di kalangan petani Bali. Hingga suatu saat mereka berserikat dan membentuk sebuah komunitas bernama Asosiasi Pelaku Usaha Holtikultura (Aspehorti).

GATRAnews sempat berbincang dengan Ketua Aspehorti untuk wilayah Kabupaten Tabanan, Erwin Sjoekoer. Petani bunga gemitir ini justru meninggalkan sektor pariwisata untuk menggeluti pertanian. "Anak muda tidak tertarik (pertanian), justru saya meninggalkan sektor pariwisata untuk menjadi petani," ujar Ervani di kawasan Kecamatan Baturiti, Tabanan.

Erwin mengatakan ketidaktertarikan anak muda ini disebabkan karena kerangka berfikir merea yang menganggap petani itu profesi yang tidak keren. Maka dari itu, Aspehorti dibentuk sebagai perhimpunan yang mempertemukan seluruh pelaku holtikultura, termasuk petani, penakar benih, dan ahli pertanian.

"Ada informasi yang terputus bahwa produk pertanian holtikultura di Bali luar biasa. Ini sektor yang riil dan menguntungkan. Kami berserikat untuk menciptakan sistem informasi lengkap mengenai potensi komoditas di Bali," ungkap Ervani.

Aspehorti yang kini baru beranggota 75 orang juga bertujuan untuk mengajak kembali masyarakat kembali ke kampung halaman untuk memberdayakan potensi pertanian. Ke depannya, Aspehorti juga akan membuat sistem yang menjamin produk pertanian diserap pasar, dan mendapatkan jaringan penjualan di kota-kota besar di Indonesia.

"Sistem ini dibuat agar petani tidak kapok menjadi petani. Produk mereka dijamkn terserap pasar, memiliki jaringan yang luas sampai internasional," jelas pemilik kebun Bali Gemitir yang juga pengusaha restoran tersebut.

Sementara itu, Duta Petani Muda 2016, Gede Artha Sudiarsana menilai petani muda harus mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah. Dukungan, kata dia, tak melulu harus dari segi permodalan. Petani harus memiliki jaminan bahwa produk mereka terserap pasar dan memiliki harga jual yang baik.

Saat ini, Gede tengah mengembangkan komoditas jamur tiram sebagai produk pertanian unggulannya. Gede ingin mengajak anak muda di kampungnya, Desa Pidpid, Kecamatan Abang, Karangasem untuk bertani jamur tiram.

"Selain akses permodalan, kami juga perlu diberikan peningkatan kapasitas. Selama ini, saya hanya menjual produk ke pasar tradisional dan warung-warung kecil. Padahal, potensi penyerapan produk sangat baik," ungkap Gede saat ditemui terpisah di kawasan Ketewel, Gianyar.

Jika semua pemuda Bali memiliki keahlian di sektor pertanian, maka Bali akan menjadi pulau surga yang menciptakan ketahanan ekonomi bagi masyarakatnya. "Jika semua anak muda desa saya mau membudidayakan produk pertanian, maka hasilnya luar biasa. Produk jamur saya panen setiap hari sebanyak 10 sampai 15 kilo gram. Harga jualnya mencapai 20 ribu per kilo gram," tukas Gede.


Reporter: Rizaldi Abror

Editor: Nur Hidayat

Fahrio Rizaldi A.
08-05-2017 20:51