Main Menu

Ribuan Warga Toraja Sampaikan Pesan Perdamaian

Tian Arief
22-05-2017 08:33

Malam Kebangsaan di Rantepao Toraja Utara (GATRAnews/Yuke Mayaratih)

Rantepao, GATRAnews - Sekitar 3.000 warga Toraja, di Rantepao, Toraja Utara, Sulawesi Selatan, belum lama ini berkumpul di Lapangan Bakti, untuk mengikuti Malam Kebangsaan dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Di malam yang dingin udara pegunungan, dengan penghangat empat api unggun dalam drum, Bupati Toraja Utara Kalatiku Paembonan menyampaikan pesan perdamaian untuk Indonesia

Menurut Ketua Panitia Genta (Gerakan Cinta Bangsa) Pancasila Toraja, Brikken L Bonting, acara yang dihadiri tokoh agama Kristen dan Islam itu, acara seperti ini baru pertama kali digelar di Toraja. Targetnya dihadiri 1.000 warga, namun kenyataannya yang hadir tiga kali lipatnya. "Kami tidak menyangka juga, ternyata banyak juga yang datang," kata Brikken kepada GATRAnews, di Rantepao, akhir pekan lalu.

Sebanyak 30 anggota panitia menenakan kemeja merah dan kemeja putih, dengan atribut kain merah putih yang diikatkan di kepala, serta pita merah putih yang disematkan di baju mereka.

Acara dimulai dengan orasi kebhinekaan yang dibawakan tiga wakil organisasi masyarakat (ormas), disambung dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Selain itu, juga dinyanyikan lagu nasional Nyiur Melambai, pembacaan puisi berjudul Cahaya Negeri, yang dibawakan secara bergantian oleh pendeta Kris Takko dan Manaek Barallo.

Setelah itu, dilakukan pelepasan 20 lampion ke udara, serta penyalaan lilin berbentuk Toraja love (simbol hati) NKRI, oleh beberapa pemuda, di sela-sela pembacaan deklarasi kebangsaan yang dibacakan perwakilan elemen organisasi keagamaan, forum pembauran kebangsaan, Perkantas (Persekutuan Kristen antar-Universitas), KNPI Toraja Utara, Gereja Toraja, PGPI (Persatuan Gereja Pantekosta Indonesia), GP Ansor, GAMKI, Forum kerukunan umat beragama, dan MUI Toraja Utara.

Deklarasi itu berbunyi, antara lain menyerukan penolakan pada segala bentuk intoleransi, radikalisme dan berbagai upaya untuk menggeser/mengganti ideologi negara yang berlandaskan Pancasila, menyerukan agar pemerintah dengan tegas menegakkan hukum dan pengadilan yang mandiri, independen dan bebas dari intervensi kepentingan golongan, politik atau kekuatan apapun yang tidak berlandaskan kepada fakta yang benar, menyerukan agar segenap anak bangsa menghentikan kebencian, saling fitnah kepada sesama dengan alasan apapun, kembali merajut persatuan, kerukunan, perdamaian dan kesejahteraan bangsa.

Acara yang berlangsung selama 2 jam ini ditutup dengan doa bersama, yang dipimpin Ketua sinode Gereja Toraja yang juga ketua FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) dan Ketua MUI Toraja Utara. 

Brikken menambahkan, acara ini diadakan karena keprihatinan terhadap persoalan kebangsaan, yaitu melawan radikalisme dan intoleransi lalu berbagai elemen organisasi seluruh Toraja mengadakan acara Malam Kebangsaan.

"Acara ini benar-benar dilakukan secara spontan. Biaya yang dikeluarkan juga berasal dari 'kerelaan kantong' masing-masing. Tidak ada sepeserpun bantuan dana dari pemerintah. Bahkan acara ini baru kami rencanakan seminggu sebelum acara ini diadakan. Massa berkumpul sebanyak ini juga hanya disampaikan melalui media sosial Twitter, Facebook, dan Instagram," kata Brikken.


Reporter: Yuke Mayaratih (Toraja Utara)
Editor: Tian Arief

Tian Arief
22-05-2017 08:33