Main Menu

Menteri Susi Minta Nelayan Cilacap Tak Tangkap Hiu

Rosyid
15-08-2017 19:03

Menteri Kelautan Perikanan Susi Pudjiastuti (GATRAnews/Ridlo Susanto/HR02)

Cilacap, GATRAnews – Seluruh nelayan di Cilacap diminta tak memburu hiu, apapun jenisnya. Sebab, sebagian besar jenis hiu merupakan hewan yang dilindungi dan tak boleh ditangkap atau dikonsumsi. Hal itu untuk menghindari nelayan terjerat hukum lantaran keliru mengidentifikasi hiu yang dilindungi dan tidak.


Menurut Menteri Kelautan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti, di tingkat nelayan, memang masih terjadi kesimpangsiuran informasi mengenai jenis hiu yang dilindungi. Itu sebab, lebih baik nelayan menghindari menangkap hiu. “Lebih baik nelayan menghindari menangkap hiu apa pun jenisnya. Supaya, tidak kena undang-undang perlindungan hewan,” jelas dia, Senin (14/8), dalam diskusi dengan ratusan nelayan usai peluncuran program Kredit Ultra Mikro (KUM) di Cilacap.

 

Namun begitu, dia mengatakan jika memang hiu itu tersangkut di jaring, maka hiu yang terluka parah atau mati itu boleh dijual atau dikonsumsi. Sebab, jika dibuang, bangkai hiu akan mencemari perairan laut. “Kalau tidak sengaja tertangkap jaring dan mati. Kalau tidak sengaja, tertangkap dan mati, ya sudah dibawa saja,” tandasnya.

 

Susi mengaku tak hafal jenis-jenis hiu yang dilarang untuk ditangkap. Namun, Susi menjelaskan, beberapa hiu yang dilarang untuk ditangkap antara lain hiu putih, hiu martil dan hiu pari manta (peh). Hiu-hiu itu menurut dia banyak terdapat di perairan Cilacap.

 

“Anda harus berusaha di laut untuk tidak menangkap hiu yang dilarang. Yang melarang itu bukan KKP, yang melarang itu UNTC dan Kementerian Lingkungan Hidup,” jelas Susi.

 

Untuk memberikan pemahaman kepada nelayan, Susi juga mengatakan akan segera memerintahkan jajarannya untuk menyebar semacam poster informasi mengenai hewan dilindungi beserta peraturannya. Pengumuman itu akan ditempel di tempat-tempat strategis. Dengan begitu, tak lagi terjadi simpang siur informasi.

 

“Nanti akan ditempel di TPI, pelabuhan, agar nelayan bisa melihat hiu yang tidak boleh ditangkap,” ujarnya.

 

Susi mengemukakan, salah satu mekanisme kontrol penangkapan ikan dilindungi adalah dengan memaksa kapal-kapal besar untuk melelang ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Cilacap. Untuk itu, dia meminta agar KUD Mino Saroyo agar bisa menarik kapal-kapal nelayan besar berlabuh di Cilacap. Dari situ bisa dilihat mana kapal yang  sengaja memburu hiu atau tak sengaja menangkap hiu dari jumlah hiu yang ada di kapal tersebut.

 

“Itu Pak Kepala KUD Mino Saroyo harus bisa menarik kapal-kapal besar agar melelang ikannya di sini,” tegasnya.

 

Sebelumnya, seorang nelayan asal Tegal Kamulyan, Suwarso mengeluh lantaran kerap terjadi penangkapan nelayan meski yang tertangkap adalah jenis hiu tikus yang tak dilindungi. Menurut dia, hal itu menyebabkan banyak nelayan yang resah. Sebab, informasi mengenai hiu yang dilindungi dan boleh ditangkap masih simpang siur.

 

Suwarso menjelaskan, pekan lalu, seorang kawannya ditangkap lantaran mengangkut hiu tikus yang akan dijual ke luar daerah. Ikan itu akan diasap atau didendeng. Menurut dia, kawannya itu harus mendatangkan wakil Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cilacap dan perwakilan kelompok nelayan. Setelah diberi pengertian oleh kelompok nelayan dan negosiasi, nelayan itu dilepaskan.

 

Meski begitu, kata Suwarso, penangkapan itu tetap meresahkan bagi nelayan yang merasa tak berbuat salah.




Reporter: Ridlo Susanto
Editor: Rosyid

Rosyid
15-08-2017 19:03