Main Menu

Masyarakat Lereng Slamet Pasang Puluhan Spanduk Menolak PLTP  

Rosyid
08-09-2017 15:32

Puluhan poster, mural dan spanduk penolakan PLTP bertebaran di Kota Purwokerto dan pedesaan sekitar lereng selatan Gunung Slamet (GATRAnews/Ridlo Susanto/HR02)

 

Banyumas, GATRAnews – Masyarakat di sekitar kawasan penyangga lereng selatan Gunung Slamet memasang puluhan spanduk, banner, poster dan mural berisi penolakan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Baturraden. Ungkapan penolakan itu dipasang di ruas jalan, rumah penduduk, batas desa, hingga jembatan-jembatan di desa-desa pegunungan lereng Slamet.

 

Anggota Tim Riset Aliansi Selamatkan Slamet (ASS), Panji Mulkillah mengatakan pemasangan itu dilakukan oleh warga desa mulai dari Kecamatan Sumbang, Kedungbanteng, Karanglewas hingga Kecamatan Cilongok. Konsentrasi pemasangan spanduk penolakan terbanyak menurut dia ada di Kecamatan Cilongok.

 

“Wilayah paling terdampak langsung proyek yang kini masih dalam tahap eksplorasi itu ada di kawasan ini,” kata Panji, Jumat (8/9).

 

Menurut Panji, pemasangan spanduk dan banner penolakan itu dilakukan mulai awal pekan ini dan terus berlanjut. Jumlah spanduk dan banner yang terpasang sudah lebih dari 50 buah dan masih terus bertambah.

 

 “Jadi pemasangannya itu dimulai dari tanggal 3 September. Sampai kapan, ya nggak tahu. Karena, ini spontan sih. Sebelum-sebelumnya pemasangan spanduk juga ada, cuma tidak serentak. Kalau yang dari tanggal 3 itu yang serentak. Kurang lebih sekitar ada 50-an spanduk, dan masih ada yang nambah lagi,” ujarnya.

 

Panji mengklaim, pemasangan spanduk dan banner yang begitu banyak itu menunjukkan bahwa banyak anggota masyarakat yang tak sepakat dengan proyek PLTP ini. Sebab, meski dikalim sudah mendapat ijin sejak 2011, sosialisasi yang dilakukan pelaksana proyek baru gencar dilakukan pada 2017. Itu pun, lantaran terjadi insiden berupa keruhnya sungai Prukut Kecamatan Cilongok.

 

“Ini kan pengungkapan keresahan ya, dari warga. Ya ada yang menulis karena krisis air, ada yang celeng (babi hutan-red) pada turun. Itu kan memang yang dialami mereka sendiri. Terus itu kan apa yang dialami mereka sendiri,” jelasnya.

 

Dia menjelaskan, selain keruhnya air sungai Prukut, kini semakin banyak hewan endemik yang turun ke ladang warga yang berbatasan dengan lereng slamet. Antara lain, babi hutan, kijang, dan kera. Seringkali, babi hutan dan kijang itu merusak tanaman warga. Ia menduga, massifnya hewan-hewan turun ke ladang itu lantaran habitatnya terganggu oleh aktifitas eksplorasi.

 

“Nah, ndilalah, moment seperti itu kok bersamaan dengan pembabatan hutan karena proyek PLTPB itu,” jelas Panji Mulkillah, Kamis pagi (7/9/2017).

 

Dia menjelaskan, perlawanan masyarakat dan aktivis lingkungaan atas aktifitas proyek PLTP juga terjadi di berbagai lni massa dengan tagar #selamatkanslamet.

 

Terkait pemasangan spanduk dan banner penolakan tersebut, Humas PT SAE Riyanto Yusuf mengatakan pihaknya akan segera melakukan sosialisasi kepada masyarakat di sekitar kawasan terdampak. PT SAE, kata dia, akan mengubah pola sosialisasi yang tadinya bersifat resmi menjadi nonformal, termasuk sosialisasi perkembangan atau progres proyek tersebut.

 

“Mungkin kemarin karena resmi, tidak banyak juga aspirasi yang terserap. Kami akan merubah pola komunikasi kami. Mungkin dengan ngopi bareng, sehingga lebih bersifat santai,” kata Riyanto.

 

Riyanto mengklaim pihaknya juga telah melakukan langkah-langkah antisipasi dampak ekplorasi PLTP. Antara lain, revitalisasi sediment ponds dan menambah filter agar tak ada lagi sungai yang terdampak. Selain itu, pelaksana proyek juga melokalisir sedimen bekas kerukan tanah sehingga tak lagi berdampak kepada masyarakat.

 

Ia pun membantah pihaknya membabat hutan ratusan hektar. Riyanto mengklaim baru membabat sekira 45 hektar lahan untuk jalan dan pusat pengeboran (Well Pad) H. Sementara pembangunan jalan menuju Well Pad F dihentikan sementara lantaran insiden air keruh beberapa waktu lalu.


Reporter: Ridlo Susanto

Editor: Rosyid

Rosyid
08-09-2017 15:32