Main Menu

Sumpah Pemuda 2017: 280 Pemuda Gotong Royong Bangun Desa

Nur Hidayat
30-10-2017 09:09

Ratusan pemuda bergotong royong membangun desa di Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta (GATRA/Arif Koes/HR02)

Yogyakarta, Gatra.com - Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, sebanyak 280 pemuda menjadi relawan untuk membangun tujuh rumah dan sarana umum di Dusun Srunggo 2, Desa Selopamioro, Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta. Acara ini dikoordinasi lembaga Habitat for Humanity Indonesia DI Yogyakarta selama sehari penuh.

"Dalam kegiatan ini kami berusaha mengenalkan kepada para pemuda kegiatan gotong royong yang menjadi gaya hidup bangsa Indonesia," kata Branch Manager  Habitat for Humanity Indonesia DI Yogyakarta, Dwi Agustanti, Sabtu (28/10).

Para pemuda didominasi kalangan mahasiswa dan pekerja muda di DI Yogyakarta yang menggalang dana secara swadaya. Untuk bisa ikut kegiatan ini, setiap peserta dikenai iuran Rp100.000 yang digunakan seluruhnya  untuk membeli bahan bangunan. Bersama warga, para pemuda membangun jalan desa dan membenahi tujuh rumah milik keluarga miskin yang sebelumnya dikerjakan oleh kalangan pemuda dari luar negeri.

"Habitat for Humanity Indonesia berkonsentrasi pada pemberdayaan masyarakat dalam bentuk penyediaan sarana sosial dan perumahaan layak huni. Di Selopamioro kegiatan ini sudah dilaksanakan sejak 2014 dan ditargetkan rampung pada 2019," kata Tanti. Dihuni 4.700 kepala keluarga yang tersebar di 18 dusun, Habitat for Humanity Indonesia DI Yogyakarta menargetkan membangun 500-600 rumah dan baru tercapai 170 rumah. 

Selama program ini, pendanaan berasal dari pemuda-pemuda luar negeri yang  mengadakan 25 kali kegiatan di sana dalam setahun. "Khusus hari ini, kegiatan yang sama juga kami lakukan di Jakarta, Semarang, dan Bandung," ujarnya.

Salah satu relawan Ramadhani dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengatakan baru pertama kali mengikuti kegiatan ini. "Saya yang berasal dari Jakarta belum pernah merasakan suasana gotong royong di pedesaan. Ternyata menyenangkan karena bersama warga saling bantu," katanya. Meski harus membayar sebagai sumbangan, Ramadhai mengaku tidak keberatan karena dia menyatakan mendapat banyak pengalaman.


Reporter: Arif Koes Hernawan

Editor: Nur Hidayat

Nur Hidayat
30-10-2017 09:09