Main Menu

21 Nama Masuk DPO Pelaku Teror di Mimika

Riana Astuti
11-11-2017 22:44

Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Ahmad Mustofa Kamal. (Dok. Polda Papua/FT02)

 
"21 orang tersebut diduga kuat terlibat berbagai aksi teror penembakan terhadap kendaraan dan fasilitas milik PT Freeport Indonesia beberapa waktu lalu," tutur Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Ahmad Mustofa Kamal, Sabtu (11/11/2017) dalam rilis yang diterima awak media. 
 
Selain aksi teror, mereka diduga pula terlibat kasus penembakan terhadap anggota Brimob, kasus penembakan terhadap warga sipil, kepemilikan senjata api serta beberapa aksi lainnya sejak 2015 sampai sekarang. 
 
Kamal menyatakan bahwa ke-21 DPO, kini menguasai sejumlah perkampungan di dekat Kota Tembagapura seperti Utikini Lama, Kimbeli hingga Banti. 
 
Kamal menambahkan, kalompok tersebut ditengarai menghalang-halangi dan melakukan intimidasi kepada warga sipil untuk melintas ke Tembagapura guna mendapatkan barang kebutuhan pokok sehari-hari.
 
 
Diindikasikan seperti itu, mereka menghambat warga untuk bepergian kemana-mana, tidak ada penyanderaan warga sipil, cuma mereka membatasi untuk melintas saja,” terang Kemal.
 
Berikut nama-nama 21 pelaku;  Ayuk Waker ( Pimpinan KKB), Obeth Waker, Ferry Elas, Konius Waker, Yopi Elas, Jack Kemong, Nau Waker, Sabinus Waker, Joni Botak, Abu Bakar alias Kuburan Kogoya, Tandi Kogoya, Tabuni, Ewu Magai, Guspi Waker, Yumando Waker alias Ando Waker, Yohanis Magai alias Bekas, Yosep Kemong, Elan Waker, Lis Tabuni, Anggau Waker, dan Gandi Waker. 
 
"Hampir semua pentolan kelompok bersenjata tersebut berkedudukan di Kampung Utikini Lama, Distrik Tembagapura," jelasnya.
 
Mereka diduga secara bersama-sama kelompok kriminal bersenjata (KKB) melakukan penembakan dan mengusai senjata api tanpa hak atau izin. Perbuatan mana melanggar ketentuan Pasal 340 KUHP, Pasal 187 KUHP, Pasal 170 KUHP dan Pasal 1 UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951.
 
Kamal menjelaskan aparat kepolisian dibantu TNI masih melakukan upaya secara persuasif agar situasi di Distrik Tembagapura kembali normal.
 
"Kami juga meminta kepada kelompok ini untuk segera menyerahkan diri agar tidak terjadi jatuhnya korban, karena kami aparat tidak menginginkan hal tersebut terjadi karena Papua memerlukan situasi yang damai apalagi kita akan menjelang hari besar agama yaitu Natal tahun 2017," tutupnya.
Reporter : RAS
 
Editor : Bernadetta Febriana
 
 
 
 
Riana Astuti
11-11-2017 22:44