Main Menu

Kapolri: Lapas Khusus Bandar Narkoba untuk Putus Jaringan Inti

Basfin Siregar
27-12-2017 18:15

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian memberikan keterangan seusai mengunjungi Lapas Khusus Bandar Narkoba dan Lapas “high Risk” Terorisme, Pulau Nusakambangan. (Gatra.com/Ridlo Susanto).

Cilacap, Gatra.com – Kapolri, Jenderal Polisi Tito Karnavian menyatakan, Lapas Khusus Bandar Narkoba Pulau Nusakambangan bakal menjadi tempat dibuinya pada bandar inti jaringan, atau aktor utama jaringan narkoba.

Penempatan jaringan inti narkoba di Lapas Super Maksimum Security (SMS) diharapkan bisa melemahkan jaringan narkoba. Pasalnya, mereka benar-benar terputus dari dunianya, kecuali beberapa hak untuk bertemu dengan pengacara dan keluarga intinya. Di luar itu, mereka tak bisa bertemu dengan siapa pun.

“Kalau kita mau melemahkan jaringan, maka jantungnya yang kita ambil. Maka jantungnya ini yang dipindahkan di Maximum Security Prison agar tidak berhubungan dengan dunia luar. Tetapi masih manusiawi, mereka masih bisa bertemu dengan keluarga inti,” katanya, saat berkunjung ke Lapas Bandar Narkoba Pulau Nusakambangan bersama dengan Menkumham Yasonna Laoly dan Deputi Penindakan BNN, Irjen Pol Arman Dapari, Jumat (22/12).

Kapolri mengaku optimis, mengingat semua fasilitas lengkap yang dimiliki, Lapas Khusus Bandar Narkoba ini akan menjadi Lapas yang sangat steril dan aman. Yang kini diperlukan adalah sistim manajamen Lapas, termasuk penempatan personel.

“Jaringan ini ada yang namanya core, namanya inti. Kemudian cooperative, mereka yang melakukan kegiatan lapangan. Ada Suporter atau pendukung, ada Sympathizer atau simpatisan. Nah yang ditempatkan di sini adalah inti jaringan atau core,” jelasnya.

Menurut Tito, dari hasil pembicaraannya dengan Menteri Hukum dan HAM (Menkumham), Yasonna Laoly, kepolisian siap mem-backup pengamanan dengan cara membuat tim pengamanan gabungan. Bahkan, ia pun mengusulkan agar petugas-petugas yang diseleksi ketat dari yang terbaik itu diberi reward atau penghargaan lebih atas jasa-jasanya menjalankan tugas di tempat khusus.

Tito menerangkan, apa yang akan dilakukan Kementerian Hukum dan Ham dengan menempatkan para petugas Lapas baru dianggap sebagai langkah strategis, sekaligus “tes case” apakah mereka berhasil di Lapas Bandar Narkoba ini atau tidak. Mereka dipilih dari lulusan-lulusan terbaik akademi pemasyarakat terbaik.

Model penempatan seperti ini, kata Kapolri, mirip dengan kepolisian yang banyak menempatkan polisi baru di daerah rawan konflik. Jika berhasil, maka orang tersebut akan memperoleh promosi cepat. Jika tidak berhasil, maka masa tugas personel itu akan diperpanjang atau dipindah tanpa promosi.

“Seperti Polri, personel kita yang baru ditempatkan di wilayah konflik. Kalau berprestasi maka akan promosi, sebaliknya kalau gagal, maka akan diperpanjang,” ujarnya.

Sementara, Deputi Bidang Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN), Irjen Arman Dapari mengaku optimis Lapas Khusus Bandar Narkoba akan menjadi strategi baru untuk memutus jaringan narkoba kelas kakap. Pasalnya, para penggerak atau inti jaringannya ditempatkan di Lapas yang benar-benar steril dan tak bisa berhubungan dengan dunia luar.

Pasalnya, kata dia, gembong narkoba kerap membuat jaringan baru di dalam Lapas maupun mengendalikan jaringan baru yang dibentuk dari Lapas.

 “Jaringan-jaringan, atau orang-orang, atau narapidana-narapidana yang memang berpotensi masih ada kaitannya dengan luar. Sehingga, dengan kita pisahkan nanti, orang-orang tertentu ini, di sel-sel isolasi khusus maka mereka tidak akan bisa mengembangkan jaringan,” kata Arman Dapari.

Reporter: Ridlo Susanto

Editor: Basfin Siregar

Basfin Siregar
27-12-2017 18:15