Main Menu

Kasus Bayi Stunting di Bantul Mencapai 10,4%

Mukhlison S Widodo
30-01-2018 19:00

Konseling gizi untuk ibu hamil dan balita di Balai Desa Karang Talun, Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta, Selasa (30/1). (GATRA/Arif Koes/FT02)

Yogyakarta, Gatra.com - Dinas Kesehatan Bantul menyatakan hingga akhir 2017, sebanyak 10,4 persen atau 4.987 balita kekurangan gizi. Penyebabnya, orang tua kerap tidak tahu asupan makanan bergizi untuk bayinya.

 

Angka ini disampaikan staf Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Bantul, Fatma, di sela konseling gizi untuk ibu hamil dan balita di Balai Desa Karang Talun, Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta, Selasa (30/1).

“Dari jumlah itu, kasus stunting atau pertumbuhan tidak sesuai dengan umur bayi menjadi perhatian kami. Hampir semua penderita kekurangan gizi mengalami stunting,” jelasnya.

Selain kekurangan gizi, atensi terhadap kasus ibu hamil kekurangan energi kronis (KEK) juga terus ditingkatkan Dinkes Bantul. Ibu hamil KEK  memiliki ciri berupa lingkar lengan yang kurang dari 23 centimeter.

“Sebagai upaya mengatasi bayi stunting dan ibu hamil KEK, dua tahun ini kami menyalurkan pemberian makanan tambahan (PMT) kepada 600 bayi dan 300 ibu hamil,” katanya.

Fatma menyatakan, kedua kasus ini lebih banyak disebabkan pola hidup yang tidak seimbang terutama dalam mengonsumsi makanan sehat. Meskipun informasi terbuka lebar, keinginan untuk mempelajari dan menerapkan gaya hidup sehat dengan mengonsumsi makanan bergizi tidak meningkat.

"Padahal untuk memenuhi kebutuhan makanan sehat berimbang, dari sisi ekonomi, kami melihat ibu-ibu hamil merupakan golongan mampu," ujar Fatma.

Adapun Ketua DPC Persatuan Ahli Gizi (Persagi) Bantul Rahmad Suryo Nugroho melihat, selain ibu hamil yang enggan mengonsumsi makanan dengan gizi berimbang, keluarga juga menentukan pola hidup yang tidak sehat.

“Sekarang ini dengan mudahnya anggota keluarga mendorong untuk mengonsumsi makanan siap saji yang diantar. Padahal jika ini dilakukan, efek berantai akan dirasakan dalam jangka waktu lama,” katanya.

Persagi mencatat, di DI Yogyakarta ada 8,25 persen balita kekurangan gizi. Angka ini memang masih di bawah standard nasional yang mengacu pada WHO yaitu 10 persen dari total jumlah balita di suatu daerah.

Dari angka itu, sebanyak 0,56 persen bayi DI Yogyakarta mengalami gizi buruk.


Reporter : Arif Koes

Editor : Mukhlison

Mukhlison S Widodo
30-01-2018 19:00