Main Menu

Pedagang di Sumsel Demo Tagih Janji Soal Registrasi di Outlet

Iwan Sutiawan
02-04-2018 16:41

Aksi unjuk rasa KNCI di DPRD Sumsel. (GATRA/Tasmalinda/re1)

Palembang, Gatra.com - Perkumpulan pedagang seluler yang tergabung dalam Kesatuan Niaga Seluler Indonesia (KNCI) menggelar aksi di kantor DPRD Sumatera Selatan (Sumsel), Senin (2/4), untuk menagih janji keputusan Ditjen Penyelenggaraan Pos dan Informatik (PPI) Kominfo yang menyetujui permintaan KNCI agar outlet seluler mempunyai kewenangan yang sama dalam meregistrasi kartu prabayar yang keempat.

Keputusan yang diterbitkan November 2017 itu atas penolakan KNCI pada kebijakan pembatasan registrasi satu momor induk KTP atau Kartu Keluarga (NIK/KK) hanya pada tiga kartu perdana prabayar.

Koordinator aksi sekaligus Wakil Ketua KNCI Sumsel, Tantowi Jauhari menjelaskan, pembatasan registrasi satu NIK bagi tiga kartu perdana akan berimbas luas bagi usaha outlet atau dikenal dengan gerai pulsa.

"Kami, KNCI mendukung registrasi kartu perdana sesuai dengan identitas baik NIK atau KK yang valid namun pembatasan hanya tiga kartu berpengaruh pada bisnis counter," ujarnya di sela-sela aksi.

Saat ini, lanjut Tantowi, pembatasan registrasi tiga kartu perdana prabayar telah berimbas pada omset penjualan outlet. Biasanya, satu outlet mampu menjual 40 simcard setiap hari, namun dengan adanya pembatasan registrasi, penjualan menurun dratis. "Sekarang sepi, omset turun," ucapnya.

Dia mencontohkan, bila satu kelurahan atau desa memiliki 10 outlet, maka jumlahnya bisa mencapai 800 ribu outlet di seluruh Indonesia. Misal, masing-masing outlet memiliki stok kartu perdana minimal 25 buah, maka jumlah stok kartu perdana di seluruh outlet bisa mencapai 12,5 juta.

Sementara jika nilai rata-rata satu kartu perdana sekarang Rp 35.000, maka nilai seluruh stok kartu perdana milik outlet bisa mencapai sekitar Rp 437,5 juta. Nilai yang besar ini cukup memengaruhi pendapatan outlet di seluruh Indonesia.

"Jika terus dibatasi, maka dipastikan beberapa bulan ke depan, banyak outlet yang tergusur dari pasar seluler Indonesia. Diperkirakan akan ada 5 juta jiwa yang bergantung pada jasa outlet seluler kehilangan pendapatannya," ungkap dia.

Selain itu, saat usaha outlet banyak yang tutup, maka masyarakat di wilayah pedesaan dan pedalaman juga kesulitan akses komunikasi terdekat. Sementara pasar seluler tentunya hanya dikuasai oleh segelintir pemodal dalam jaringan modern chanel.

"Gerai pulsa ini dikenal dengan tradisional chanel yang juga merupakan pelaku usaha kecil dan mikro. Pembatasan yang berimbas penurunan pendapatan masyakat yang jelas tidak sejalan dengan Nawacita Presiden Joko Widodo menghidupkan usaha mikro masyarakat," ungkapnya.

Dengan membawa atribut, para pedagang outlet seluler ini bergantian melakukan orasi. Hampir selama dua jam aksi digelar. Usai berorasi, perwakilan KNCI diterima oleh wakil rakyat Sumsel.

Menaggapi aksi para pemilik dan pedagang outlet selular ini, anggota Komisi I DPRD Sumsel, Budiarto Marsul, menjanjikan akan menyampaikan tuntutan tersebut kepada kementrian Kominfo.

"Aksi masyarakat pedagang ini saya terima dan saya pahami sebagai perjuangan ekonominya, karena itu akan diteruskan pada pemerintah pusat sebagai pihak yang berwenangan dan menelurkan kebijakan," ungkapnya.


Reporter: Tasmalinda‎
Editor: Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
02-04-2018 16:41