Main Menu

Mahyudin: Tokoh Kaltim Harus Berkiprah di Lingkup Nasional

Ervan
12-04-2018 10:21

Wakil Ketua MPR RI Mahyudin menjadi pembicara dalam acara Roadshow Seminar Motivasi Kammi Indonesia, di aula Universitas Mulawarman, Samarinda, Kalimantan Timur.(Dok. Humas MPR/re1)

Samarinda, Gatra.com - Saat ini kebutuhan akan pemimpin yang berintegritas di Indonesia menjadi satu kebutuhan terutama untuk kepala daerah mengingat banyaknya kepala daerah terkena kasus korupsi.  Selain pemimpin yang berintegritas untuk kebutuhan daerah, tokoh-tokoh daerah seperti di Kalimantan Timur juga mesti didorong untuk lebih berkiprah dalam lingkup nasional seperti masuk dalam jajaran kabinet atau pimpinan lembaga negara.

 

Hal tersebut dikatakan Wakil Ketua MPR RI Mahyudin di hadapan mahasiswa dan mahasiswi berbagai fakultas Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda yang memenuhi aula Universitas 17 Agustus 1945 saat menjadi pembicara dalam rangkaian acara Roadshow Seminar Motivasi KAMI Indonesia, di berbagai kampus di Samarinda, Kalimantan Timur, Rabu (11/4).

 

Mahyudin mengutarakan, dalam momen tahun politik pilkada 2018 ini banyak sekali tokoh-tokoh Kaltim yang memiliki integritas sebagai kepala daerah. Bahkan, memiliki integritas pula untuk berkiprah dalam lingkup nasional.

 

"Tapi saya sendiri pribadi ketika didorong untuk menjadi Gubernur, saya lebih membuka jalan kepada tokoh lain. Saya sudah berhasil merintis sebagai putra daerah, dari daerah terpencil di Sangatta, bukan anak pembesar tapi mampu berkiprah secara nasional. Malah saya ingin mendorong putera dan puteri daerah lainnya untuk berani berkiprah secara nasional. Kalau perlu masuk ke kabinet menduduki posisi tiga menteri. Saya yakin pasti mampu," katanya.

 

Masalah besarnya, lanjut Mahyudin, adalah kesempatan yang sangat minim. Namun, jika putera daerah diberi kesempatan, daerah harus kompak dengan saling mendukung. Jangan menggunakan ilmu kepiting. Beberapa ekor kepiting jika dimasukkan ke dalam baskom pasti salah satu akan berusaha naik ke atas untuk meloloskan diri. Tapi, kepiting lain pasti menariknya terus ke bawah hingga upaya kepiting tersebut sia-sia.

 

"Memang secara alamiah pada dasarnya manusia itu lahir dengan semangat kompetisi. Namun harus kompetisi yang sehat, positif, dan menjunjung etika. Sebuah bangsa harus kuat tidak boleh lemah harus kuat dalam kompetisi global. Semangat kompetisi seperti itu harus ada, mengungguli pihak lain dengan cara yang baik, sehat, sesuai dengan agama dan beradab, itulah semangat kompetisi yang harus kita bangun," tegasnya.


 

Reporter : Ervan Bayu

Editor : Flora L.Y. Barus

 

Ervan
12-04-2018 10:21