Main Menu

Ketua PP Muhammadiyah: Pernyataan Rocky Gerung Soal Kitab Suci Tak Perlu Dipermasalahkan

G.A Guritno
16-04-2018 17:18

Ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak di Cilacap, Sabtu (14/4). (GATRA/Ridlo Susanto/FT02)

Purwokerto, Gatra.com – Ketua Pengurus Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak menilai pernyataan Rocky Gerung yang menyebut bahwa kitab suci adalah hal fiksi tak perlu dipermasalahkan.

 

Menurut dia, Rocky mengatakan itu dalam konteks untuk menjelaskan fiksi secara filsafat. “Saya tidak mendalami itu ya. Tetapi bagi saya tidak harus menjadi masalah,” katanya, saat menghadiri Muskerwil Pemuda Muhammadiyah Jawa Tengah, di Cilacap, Sabtu (14/4).

Ia mengaku tak mendalami pernyataan Rocky Gerung yang menyatakan bahwa kitab suci adalah hal fiksi. Tetapi, melihat konteksnya, ia menilai saat itu Rocky Gerung tak bermaksud menista kitab suci atau agama.

Untuk menilai sebuah pernyataan tertentu, seseorang harus melihat latar atau konteks peristiwa pernyataan itu dikeluarkan. Menurut Dahnil, saat itu Rocky hanya ingin menjelaskan, bahwa selama ini banyak yang salah mendefinisikan fiksi. Sebab, fiksi tak berarti sebuah kebohongan.

Sebab itu, Dahnil menganggap bahwa ucapan Rocky Gerung tak harus dipermasalahkan. Sebab, ia sama sekali tak menyebut kitab suci yang dimaksud.

“Yang dimaksud Pak Rocky itu kan, bukan Al Quran itu fiksi. Dia tidak menyebut kitab suci tertentu, kan, sama sekali. Ya, jadi pemahaman fiksi yang dia maksud bukan sebuah kebohongan. Fiksi itu bisa juga kebenaran,” dia menjelaskan.

Dahnil mencontohkan peristiwa di masa Nabi Muhammad SAW, yang bagi sebagian orang adalah fiksi, namun bagi orang lain adalah kebenaran. Peristiwa itu adalah Isra’ Mi’raj.

Dahnil menceritakan, saat itu Rasulullah mengaku telah melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjid Al Aqsa dan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha, dalam waktu semalam. Padahal, pada zaman itu, perjalanan secepat itu seolah mustahil. Sebab itu, banyak yang menggapnya tak masuk akal.

Namun, ada yang langsung mempercayai Rasul. Dia adalah Abu Bakar. Abu Bakar Assyidiq tetap percaya di tengah sejumlah kalangan yang meragukan pengakuan sang Rasul.

“Bayangkan, Isra’ Mi’raj bagi sebagian orang itu kan fiksi. Jadi seolah-olah fiksi. Kenapa? Karena tidak masuk di akal. Tetapi kemudian, dikembangkan secara ilmiah dengan fisika, relativitas dan segala macam,” jelasnya.

Menurut Dahnil, dalam konteks ini lah Rocky mengistilahkan fiksi. Fiksi, jika diyakini, maka akan menjadi kebenaran. Fiksi yang diamini adalah sesuatu yang ghoib. Dan ghoib, dalam ajaran Islam adalah sesuatu yang diyakini keberadaannya.

Penulis: Ridlo Susanto
Editor: G.A. Guritno

G.A Guritno
16-04-2018 17:18