Main Menu

Hanif Jamin Perpres No. 20/2018 Tak Bikin Tenaga Kerja Asing Membludak

G.A Guritno
16-04-2018 17:54

Menteri Tenaga Kerja, Muhamad Hanif Dhakiri (GATRA/Agriana Ali/yus4)

Purwokerto, Gatra.com – Menteri Tenaga Kerja, Muhamad Hanif Dhakiri menepis anggapan bahwa Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 20 Tahun 2018 tentang Penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA) bakal membuat jumlah tenaga kerja asing (TKA) yang masuk ke Indonesia membludak alias tak terkendali.

 

Pasalnya, kemudahan yang diatur dalam Perpres itu mempermudah TKA hanya dari sisi birokrasi dan prosedur layanan perizinan. Adapun syarat-syarat tenaga kerja asing yang diatur sebelumnya, tetap berlaku.

Hanif menjelaskan, Perpres Nomor 20 Tahun 2018 bertujuan untuk menyederhanakan sistim birokrasi perizinan. Diharapkan, kemudahan itu bakal membuat iklim investasi di Indonesia kondusif. Muaranya, jumlah lapangan pekerjaan pun meningkat dan akan mengurangi pengangguran.

“Kemudahan yang diberikan dalam kaitannya dengan perizinan TKA itu adalah hanya dari sisi birokrasinya, dari sisi prosedurnya. Tetapi, dari sisi syarat-syarat kualitatif terkait dengan tenaga kerja asing yang masuk dan bekerja di Indonesia itu masih tetap,” katanya, Sabtu (14/4).

Hanif menegaskan, pemerintah tetap mengutamakan tenaga kerja dalam negeri untuk mengisi lowongan pekerjaan dari hasil penanaman modal asing itu. Adapun TKA, tetap dibebani sejumlah prasyarat kualitatif.

Menurut dia, TKA tetap harus memenuhi kualifikasi tertentu, seperti syarat pendidikan minimal dan kompetensi keahlian tertentu. Selain itu, TKA juga hanya diperbolehkan di jabatan-jabatan tertentu dengan waktu yang dibatasi.

TKA juga harus membayar pajak penghasilan ekspatriat atau orang asing. Prasyarat TKA itu lah yang akan membatasi jumlah TKA di Indonesia.

“Bahwa misalnya, tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia itu tetap harus memenuhi syarat pendidikan, syarat kompetensi, dia juga hanya bisa menduduki jabatan tertentu,” ujarnya.

Terkait jumlah TKA di Indonesia, Menaker Hanif Dhakiri menjelaskan jumlahnya mencapai puluhan ribu orang. Terbanyak berasal dari Tiongkok (Cina). Jumlahnya mencapai 36 ribu orang. Namun, menurut dia hal itu sepadan dengan jumlah investasi yang masuk dari Cina.

Di lain sisi, ia juga mengingatkan agar masyarakat juga tidak lupa bahwa banyak pula Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Hongkong. Hongkong sendiri adalah bagian dari negara Cina. Jumlah TKI yang berada di Hongkong mencapai 170 ribu orang.

Penulis: Ridlo Susanto
Editor: G.A. Guritno

G.A Guritno
16-04-2018 17:54