Main Menu

51 TKI NTB Pulang Tinggal Nama Sepanjang 2017

Cavin Rubenstein M.
22-04-2018 15:19

Ilustrasi korban(GATRA/Erry Sudiyanto/re1)

Mataram, Gatra.com -  51 orang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Nusa Tenggara Barat (NTB) pulang dalam kondisi meninggal sepanjang tahun 2017 kemarin. Jumlah tersebut dicatat oleh Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Mataram. Mayoritas TKI itu bekerja di Timur Tengah dan Malaysia. Mereka kebanyakan meninggal karena sakit.

 

 

"Rata-rata pekerja migran yang meninggal dunia itu berangkat untuk bekerja di luar negeri secara nirprosedural. Terutama ke Timur Tengah, yang kita ketahui bersama masih dimoratorium oleh pemerintah," ujar Kepala BP3TKI Mataram Joko Purwanto, di Mataram, Minggu (22/4), seperti dikutip dari Antara.

Statistik TKI yang meninggal itupun terus bertambah. Menurut Joko, pada periode Januari-Maret 2018, sudah ada sembilan jenazah pekerja migran asal NTB yang dipulangkan ke daerah asal dari Malaysia dan beberapa negara di Timur Tengah.

"Proses pemulangan jenazah difasilitasi sepenuhnya oleh pemerintah hingga ke daerah asal," kata Joko lagi.

BP3TKI Mataram juga memperoleh informasi tentang salah seorang pekerja migran bernama Rusmiyati Sabram (28), asal Kabupaten Sumbawa, yang meninggal dunia di Jeddah, Arab Saudi, pada Kamis (19/4) kemarin.

Akan tetapi, pihaknya belum mendapatkan detil ihwal kebenaran informasi tersebut, meskipun sudah menghubungi Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah di Arab Saudi. Joko menegaskan, pihaknya terus berkoordinasi dengan KJRI Jeddah, agar kebenaran informasi tersebut bisa diteruskan ke Dinas Tenaga Kerja Sumbawa, supaya bisa membantu mencari keluarga almarhumah.

Secara keseluruhan, Joko mengungkapkan bahwa ada total 717 orang TKI yang dipulangkan dari luar negeri sepanjang tahun kemarin. 685 di antaranya merupakan pekerja nirprosedural dan 32 orang yang berangkat secara resmi.

"Jumlah pekerja migran ilegal yang dideportasi dari luar negeri pada 2017 relatif banyak, terutama dari Timur Tengah, padahal penempatan pekerja migran di kawasan itu masih ditutup," imbuhnya.

Untuk menekan jumlah pekerja migran Nirprosedural, pihaknya bekerja sama dengan para kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda untuk memberikan informasi yang jelas tentang bagaimana bekerja di luar negeri sesuai prosedur dan secara aman.

Menurut Joko, peran serta para pihak sangat dibutuhkan. Pasalnya, BP3TKI Mataram punya keterbatasan untuk menjangkau seluruh pelosok desa di 10 kabupaten/kota, terutama kantong-kantong PMI.

"Kami juga menggandeng Komunitas Keluarga Buruh Migran dalam menyampaikan informasi dan membantu ketika ada kasus, terutama ketika ada yang meninggal dunia, tetapi kami tidak punya data," tutupnya.

 


 

Editor : Cavin R. Manuputty

Cavin Rubenstein M.
22-04-2018 15:19