Main Menu

Marak, Pelajar Banyumas Pecandu Narkoba

G.A Guritno
05-05-2018 07:29

Barang bukti Pil PCC yang disita dari pabrik PCC di Pabuaran, Purwokerto beberapa waktu lalu. (FGATRA/Ridlo Susanto/FT02)

Purwokerto, Gatra.com – Peredaran Narkotika dan obat-obat terlarang (narkoba) semakin massif di kalangan pelajar dan remaja. Bahkan, kini terindikasi peredaran narkoba, tak hanya terjadi di sekolah, melainkan juga panti asuhan dan pondok pesantren. Dari 90 pecandu yang di bawah usia 20 tahun berjumlah 66 orang.

 

Kepala Seksi Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Banyumas, Wicky Sri Airlangga mengatakan pada 2017 lalu, di Banyumas satu panti asuhan terdeteksi menjadi tempat peredaran narkoba.

Wicky menjelaskan, saat itu, BNN Banyumas melakukan tes urine di sebuah sekolah setingkat SLTP di Purwokerto. Beberapa anak positif menggunakan obat terlarang. Setelah ditelusuri, mereka mengakui bahwa barangnya berasal dari anak yang ternyata tinggal di panti asuhan.

“Kita datangi sekolahnya, kita tes urine, anak-anak yang terindikasi. Kemudian kita ambil dia, dia bikin list, teman-teman dia yang suka ngoplo siapa saja. Yang satu sekolah maupun yang di sekolah lain,” ujarnya.

Di kasus kedua, terjadi pada panti asuhan lain yang salah satu anaknya hamil di luar nikah. Kemudian diketahui, ia bergaul dengan anak-anak jalanan dan mengonsumi narkoba.

“Sebenarnya hanya satu (yang positif), tetapi saya juga mendengar ada satu panti asuhan yang ada cewek, “anak nakal” lah, kemudian dia hamil, kemudian dia bergaul dengan anak-anak seperti itu. Berarti panti itu sudah tidak sehat,” jelasnya.

Wicky mengungkapkan, peredaran obat-obatan terlarang juga terdeteksi di pesantren. Hal itu masuk akal lantaran tidak semua anak yang masuk pesantren karena memang niat belajar agama. Ada pula, anak-anak nakal yang dimasuk ke pesantren supaya tidak “nakal”.

Namun, bukannya bertobat di pesantren, yang bersangkutan tetap mengonsumsi narkoba. Dikhawatirkan, pelaku juga menyebarkan pengaruh ke santri lainnya.

“Ya, awalnya memang seperti itu. Sebelum masuk pesantren, sudah mengonsumsi obat-obatan,” katanya.

Lebih lanjut Wicky mengemukakan, tes urine sepanjang 2017 lalu, penyalahgunaan narkoba sebagian besar adalah kalangan remaja. Sebagian besar dari mereka juga mengakui telah mulai mengonsumsi narkoba sejak SMP.

Menurut dia, tak semua remaja yang terindikasi mengonsumi narkoba telah menjadi pecandu. Sebab itu, tak semuanya mengikuti program rehabilitasi. Beberapa dari  mereka masih dalam taraf coba-coba.

Sepanjang tahun 2017, sebanyak 90 pecandu narkoba menjalani rehabilitasi BNN Banyumas. Sebagian besar berusia remaja. Dari 90 pecandu yang di bawah usia 20 tahun berjumlah 66 orang.

Sedangkan yang di atas usia 20 tahun hanya 24 orang. Kelompok usia yang paling banyak adalah remaja berusia 16 tahun, yang mencapai 27 orang.


Reporter: Ridlo Susanto
Editor: G.A. Guritno

G.A Guritno
05-05-2018 07:29