Main Menu

TPM Minta Selama Ramadan Makanan Khusus Napiter Nusakambangan Dimudahkan

G.A Guritno
16-05-2018 17:49

Koordinator Tim Pengacara Muslim, Achmad Michdan. (GATRA/Ridlo Susanto/re1)

Cilacap, Gatra.com – Tim Pengacara Muslim (TPM) mendesak Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) memfasilitasi atau memudahkan hak-hak narapidana terorisme di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan selama menjalankan ibadan puasa Ramadan.

 

Koordinator TPM, Achmad Michdan mengatakan, biasanya selama Ramadan napiter yang muslim, menjalankan kewajiban-kewajiban ibadah dan memiliki kebiasaan yang mungkin sepele tetapi sudah menjadi kebutuhan mereka.

Beberapa di antaranya, soal makanan, napiter biasanya mengonsumsi kurma dan madu. Makanan ini biasanya menjadi pembuka buka puasa.

“Hak mereka ya. Kalau Ramadan itu kan banyak makanan-makan yang kita suplai. Itu tidak terbatas pada tahahan (klien) kami, tetapi juga untuk napi lain dan juga untuk sipir,” katanya.

Ia mengaku sudah mempersiapkan kurma dan madu dalam jumlah besar yang akan dikirimkan ke Nusakambangan. Namun, ia belum memperoleh izin formal untuk mengirimkannya dari Ditjen Lapas.

Sebab itu, ia berencana menemui Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS) untuk membicarakan hal ini.

“Biasanya, kita kirim kurma dalam jumlah besar, biasanya juga madu. Itu sesuatu yang, agar biasa difasilitasi,” jelasnya.

Michdan pun meminta agar di soal makanan ini, napiter dimudahkan. Ia tak mau, hal-hal sepele memicu kesalahpahaman di dalam Lapas Nusakambangan. Lagi pula, kata dia, kurma dan madu ini pun tak hanya dikirimkan untuk kliennya yang kini banyak menghuni Lapas Pasir Putih, melainkan untuk napi lain dan para sipir.

Michdan juga meminta agar selama Ramadan ada kelonggaran bagi napi untuk menjalankan ibadahnya. Antara lain, hak untuk berjamaah. Terkecuali untuk napiter yang berada di ruang isolasi (one man one cell).

Michdan juga meminta agar pihak Lapas memberi kelonggaran kepada napiter yang berada di Nusakambangan untuk bertemu dengan keluarganya. Alasannya untuk berkunjung ke Lapas Nusakambangan, mereka menempuh jarak yang sangat jauh mengeluarkan biaya tak sedikit.

Dia mengungkap, sering terjadi keluarga hanya memiliki waktu 15 menit bertemu lantaran ada antrean. Padahal, waktu yang ditetapkan biasanya antara satu hingga dua jam. Sebab itu, selama Ramadan ini ia meminta kelonggaran sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan.

“Dan kemudian keluarga diberi kemudahan untuk ketemu lah, karena posisi mereka kan jauh-jauh, ya,” ujarnya.

Michdan menilai, masalah-masalah sepele itu bisa jadi memicu dendam para napiter yang jika terakumulasi bisa menyebabkan antipati terhadap petugas dan institusi negara. Bukannya sadar, mereka justru semakin anti terhadap negara.

Sebab itu, sebagai pelaksana fungsi pembinaan, lapas diminta untuk memberi perlakuan yang baik kepada napiter. Dengan demikian, program-program yang dijalankan lapas, misalnya deradikalisasi pun, akan lebih mudah dilaksanakan.

Reporter: Ridlo Susanto
Editor: G.A. Guritno

G.A Guritno
16-05-2018 17:49