Main Menu

Kesadaran Pemberian ASI di Purbalingga Rendah

G.A Guritno
28-05-2018 16:52

Pemberian bantuan untuk balita yang mengalami gizi buruk. (Dok.Dinkominfo PBG/RT)

Purbalingga, Gatra.com – Kesadaran pemberian ASI (Air Susu Ibu) eksklusif di Purbalingga masih rendah. Hasil itu diketahui dari data pemetaan para mahasiswa selama 5 (lima) minggu mulai dari 25 April hingga 26 Mei 2018.

 

Perwakilan mahasiswa Stikes Harapan Bangsa, Tin Utami memaparkan, para mahasiswa menemukan beberapa kasus kurangnya kesadaran masyarakat di bidang kesehatan salah satunya tingkat kesadaran pemberian ASI eksklusif.

Dia mengungkap, dua desa yang menjadi sasaran KKN yaitu Karangcegak dan Candinata terdapat 24 balita yang menderita stunting yang sudah tertangani oleh Puskesmas Kutasari. Indikasinya tidak mendapat ASI eksklusif dari ibu.

“Kami menemukan 24 Balita yang stunting. Walaupun sudah tertangani, ini menjadi indikator di dua desa tersebut masih rendah kesadaran pemberian ASI eksklusifnya harus mendapat perhatian dari dinas terkait ,” kata Tin Utami, Purbalingga, Minggu (27/5).

Dia menambahkan, dirinya beserta para mahasiswa lain telah melakukan beberapa solusi agar kesadaran pemberian ASI eksklusif meningkat. Dua program andalannya adalah penyuluhan secara komprehensif dan masif kepada para ibu yang mempunyai anak Balita dan Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) yang dilakukan atas kerjasama para kader.

“Kami memberikan bimbingan kepada para kader agar bisa memberikan penyuluhan secara terus-menerus saat masa KKN kami selesai. Jadi tidak ada alasan lagi adanya kesadaran yang rendah dalam hal pemberian ASI eksklusif,” imbuhnya.

Tak hanya menemukan rendahnya kesadaran pemberian ASI eksklusif, mahasiswa KKN tersebut juga menemukan beberapa masalah lain seperti tingginya angka perokok remaja, masih adanya buang air besar (BAB) di kali, rendahnya kesadaran membuang sampah pada tempatnya, tingginya resiko hipertensi pada lansia dan adanya pengidap gangguan jiwa sebanyak enam orang.

“Kami merekomendasikan kepada Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Purbalingga agar mengadakan dana stimulus peningkatan kesehatan di wilayah ini khususnya untuk stimulus pembangunan jamban karena masih ada 320 (tiga ratus dua puluh) rumah yang belum berjamban,” papar Tin Utami.

Sementara, Kepala Bappelitbangda (Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah) Purbalingga, Yani Sutrisno Adi Nugroho mengemukakan, Pemkab sangat menaruh perhatian kepada para mahasiswa yang akan melakukan KKN di Purbalingga.

Menurutnya, hal itu sebagai upya peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Purbalingga agar lebih baik lagi. Dia membawa pesan dari Bupati, peningkatan IPM Purbalingga memerlukan peran serta semua pihak termasuk dari para intelektual.

“Bapak Bupati sangat concern terhadap mahasiswa KKN. Menurut Bupati, kaum intelekyual diperlukan peran sertanya agar peningkatan IPM Indonesia pada umumnya dan Purbalingga khususnya bisa terangkat,” jelas Yani.

Reporter: Ridlo Susanto
Editor: G.A. Guritno

G.A Guritno
28-05-2018 16:52