Main Menu

Komunitas Kejawen Banyumas Rayakan Idul Fitri pada Sabtu

G.A Guritno
14-06-2018 10:33

Ritual punggahan pada bulan Sadran, sebelum memasuki bulan puasa. (GATRA/Ridlo Susanto/re1)

Banyumas, Gatra.com – Ratusan penganut Islam Kejawen anak putu Banokeling di Pekuncen Kecamatan Jatilawang Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah bakal merayakan Hari Raya Idul Fitri pada Sabtu pahing (16/6) esok, atau selang sehari dari perkiraan ketetapan pemerintah.

 

Juru Bicara Kasepuhan Adat Banokeling, Sumitro mengatakan, dalam kalender Alif Rebo Wage (Aboge), tahun 2018 ini adalah tahun Dal. Dengan begitu, tahun baru 1 Sura akan tiba pada Sabtu pasaran Manis.

“Lebaran hari Sabtu pahing. Tahun ini tahun Dal, itu caranya Daltugi. Dal Sabtu Manis, tanggalnya 1 bulan Sura, dulunya. Nah, cara rumusnya itu, Sabtu manisnya itu ya untuk mengawali, tanggal Sasi Sura,” katanya, Rabu (13/6).

Dia menjelaskan, dari perhitungan Sabtu pasaran Manis itu lah perhitungan untuk bulan-bulan lainnya berdasar, sehingga 1 Syawal jatuh pada hari Sabtu Pahing atau diperkirakan selang sehari dari ketetapan Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriyah versi pemerintah.

“Rumusnya, Rajiji, Parluji, Lupatma, seperti itu. Itu rumus menghitungnya kalau ingin menghitung. Puasanya, kemarin Kamis pahing,” ujarnya.

Sumitro menganggap tahun ini Hari Raya Idul Fitri antara Komunitas Kejawen Aboge dengan pemerintah tiba di hari yang sama. Hanya saja, pemerintah menghitung dengan patokan munculnya rembulan, adapun komunitas Islam Kejawen dengan cara menghitung berdasar hari.

“Kalau pemerintah kan menghitungnya bulan kelihatan, kalau kita menghitungnya berdasar hari,” jelasnya.

Saat merayakan Idul Fitri, Komunitas Banokeling akan melakukan ritual adat pada hari Raya Idul Fitri. Pertama yang dilakukan adalah bekten atau ziarah ke makam Panembahan Banokeling.

Selanjutnya, mereka akan berkumpul di Balaidesa Pekuncen dan melakukan ritual Babaran, atau selamatan Riaya dengan berdoa dan dilanjutkan makan bersama.

Menurut dia, meski berbeda selang sehari dari ketetapan pemerintah, anak putu atau keturunan trah Banokeling juga turut merayakan Idul Fitri pada Jumat.

Namun, keesokan harinya, anak putu akan menggelar ritual secara terbatas. Dalam acara tersebut, enam Bedogol atau garis keturunan Banokeling akan mempersiapkan ubo rampe ritual adat.

Sumitro menambahkan, Aboge memakai sistim kalender dalam kurun waktu delapan tahunan atau sewindu. Masing-masing tahun memiliki nama, yakni Alif, Ha, Jim, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jim akhir.

Dalam almanak Aboge, satu tahun terdiri dari 354 hari. Enam bulan terdiri dari 29 hari, separuhnya lagi terdiri dari 30 hari.

Reporter: Ridlo Susanto
Editor: G.A. Guritno

G.A Guritno
14-06-2018 10:33