Main Menu

Rayakan Idulfitri Selang Sehari dari Ketetapan Pemerintah, Ini Harapan Penganut Aboge

Sandika Prihatnala
18-06-2018 13:40

Penganut Islam Kejawen komunitas Anak Putu Banokeling, Banyumas, melaksanakan ritual Punggahan menjelang Ramadhan. (GATRA/Ridlo Susanto/yus4)

Banyumas, Gatra.com - Ratusan penganut Islam Aboge atau Alif Rebo Wage di Desa Kracak Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah baru menjalankan Salat Ied dan merayakan Idul Fitri 1439 Hijriyah pada Sabtu, 16 Juni 2018.

 

Meski selang sehari dari ketetapan pemerintah, namun penganut Aboge berharap hal itu tak menyebabkan perselisihan.

Sesepuh Aboge di Desa Kracak, Sudiworo Jaman mengatakan sesuai almanak Aboge, puasa atau Ramadan tahun ini tepat 30 hari. Sebab itu, lebaran atau Riaya Idul Fitri, tiba selang sehari setelah ketetapan pemerintah.

“Alhamdulilah, diijabahi berlebaran,” katanya, Senin (18/6).

Sudiworo menerangkan, secara umum, tak ada yang berbeda dari ritual Salat Ied antara Islam Aboge dengan umat muslim lainnya. Yang berbeda hanya lah kalender atau sistim penanggalannya. Sebab itu, ia berharap bahwa perbedaan penentuan hari raya Idul Fitri itu justru menjadi kekayaan ilmu pengetahuan di Indonesia.

Sebab, kaum Aboge menggunakan kalender yang sudah diyakini secara turun temurun. “Perhitungannya, sejak awal puasa, sama dengan pemerintah. Awalnya sama, dihitung. Kamis pahing, Tapi dihitung tiga puluh hari,” tambahnya.

Dia menjelaskan, dalam kalender Alif Rebo Wage (Aboge), tahun 2018 ini adalah tahun Dal. Rumus perhitungan tahun Dal adalah Daltugi. Sebab itu, tahun baru 1 Sura akan tiba pada Sabtu pasaran Manis. Sementara, 1 Syawal tiba di hari Sabtu Pahing.

“Dihitung sampai sekarang, ini hari ke 31, atau 1 Syawal, Sabtu Pahing. Itulah perhitungan orang (penganut) Aboge,” jelasnya.

Dia mengemukakan, dalam perayaan Idul Fitri Aboge, tak ada yang berbeda dengan umat muslim lainnya. Awalnya, ratusan jemaah Salat Ied ber-Iktikaf atau berdiam diri di masjid sembari berdoa, dan menunggu Salat Ied dan Khotbah Ied.

Sementara, dalam perayaan Idul Fitri, penganut Aboge memiliki adat tersendiri. Usai beribadah Salat, mereka mulai berbaris melingkar.

Dipimpin oleh imam, khatib, tokoh desa dan tetua Islam Aboge, mereka mulai saling bersalam-salaman saling memaafkan, sembari melantunkan puja-puji dan salawat. Seusai bersalam-salaman, kaum lelaki membuka bekal masing-masing untuk dinikmati bersama-sama di masj

 

Sandika Prihatnala
18-06-2018 13:40