Main Menu

Puntung Rokok Picu Kebakaran Hektaran Hutan Pinus di Banyumas

G.A Guritno
02-07-2018 00:52

Kebakaran hutan pinus di petak 34F Desa Karangendep Kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas . (Dok. BPBD Banyumas/FT02)

Banyumas, Gatra.com – Hektaran hutan pinus Perhutani di petak 34F Desa Karangendep Kecamatan Patikraja Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah terbakar, Minggu malam (1/7).

 

Komandan Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas, Kusworo mengatakan kebakaran diduga disebabkan oleh puntung rokok yang dibuang oleh tenaga kerja yang turut membersihkan area hutan yang ditebang.

Menurut Kusworo, putung rokok itu kemudian membakar ranting dan daun pinus yang kering yang lantas meluas ke area tegakan.

“Ya perkiraan, ada orang yang membuang puntung rokok di ranting dan resah bekas sisa tebangan yang kering kemudian terbakar,” katanya, Minggu malam.

Kusworo menerangkan, api pertama kali diketahui sekitar pukul 18.00 WIB oleh warga setempat. Kemudian, puluhan warga setempat berupaya memadamkan api dengan alat seadanya.

Lantas, pemadam kebakaran dan tim BPBD serta relawan lainnya tiba di lokasi sekitar satu jam setelah kebakaran diketahui. Namun, lantaran mobil pemadam kebakaran tak bisa menjangkau lokasi, pemadaman dilakukan oleh ratusan warga, petugas BPBD dan relawan dengan cara manual.

“Tadi sewaktu kita merapat sudah kebakaran sekitar satu jam. Pemadaman dengan cara manual,”

Dia mengungkapkan, api bisa dipadamkan sekitar pukul 21.00 WIB, atau sekitar tiga jam kebakaran. Hingga saat ini, BPBD belum bisa memperkirakan jumlah kerugian yang diderita atau seberapa luasan lahan yang terbakar. Pasalnya, kondisi gelap sehingga sulit memperkirakan.

“Karena malam kita belum bisa memperkirakan (luasnya) itu,” jelasnya.

Kusworo menerangkan, meski api sudah berhasil dipadamkan, warga dan relawan yang terdiri dari SAR Banyumas, Koramil Patikraja, Polsek Patikraja, Polhut, Senkom, perangkat desa dan LMDH hingga malam ini masih berjaga di sekitar area yang terbakar. Dikhawatirkan masih ada api yang tersisa dan menimbulkan kebakaran baru.

“Sekarang teman-teman masih berada di sana,” ujarnya.

Dia menambahkan, pada musim kamarau potensi kebakaran hutan amat tinggi. Sebab itu, ia mengimbau agar masyarakat tak sembarangan menyalakan perapian di sekitar hutan. Petani juga diminta tak membersihkan kebun dengan cara membakar.

Reporter: Ridlo Susanto
Editor: G.A. Guritno

G.A Guritno
02-07-2018 00:52