Main Menu

Banyak Surat Keterangan Tidak Mampu Palsu Demi Diterima SMA Negeri di Banyumas

G.A Guritno
07-07-2018 09:04

Sejumlah siswa SMK jurusan animasi berpraktek di studio televisi komunitas. (GATRA/Ridlo Susanto/yus4)

Purwokerto, Gatra.com – Balai Pengendali Pendidikan Menengah dan Khusus (BP2MK) Wilayah V Banyumas, Jawa Tengah memperketat verifikasi berkas Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) untuk mengantisipasi terjadinya kecurangan dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) tingkat SMA/SMK.

 

Sebab, pada PPDB 2018 ini muncul beragam modus demi memasukkan calon siswa ke sekolah negeri yang diinginkan.

Kepala Seksi SMA/SLB BP2MK Wilayah V Banyumas Yuniarso K Adi mengatakan salah satu modus yang paling banyak dilakukan adalah dengan memalsukan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM).

Sebab, dengan surat ini, calon siswa berada di kuota khusus untuk keluarga miskin yang tak perlu bersaing dengan siswa umum yang rangkingnya berdasar nilai.

“Maka sekolah di Banyumas melakukan verifikasi ulang faktual. Ada yang diundang ke sekolah, ada yang didatangi di rumah,” katanya, Jumat (6/7).

BP2MK menginstruksikan agar seluruh SMA melakukan verifikasi faktual dengan memanggil orang tua dan siswa ke sekolah, atau mendatangi rumah calon siswa. Setelah itu, orang tua dan calon siswa menandatangani pakta integritas. Dalam pernyataan itu, salah satu sanksinya adalah ancaman hukum pidana bagi yang memalsukan.

Menurut dia, pakta integritas ini cukup berhasil. Dia mengklaim banyak yang mundur dan mencabut SKTM-nya. Sebab, sebenarnya keluarga tersebut bukan lah keluarga miskin. Dia mencontohkan, 16 orang tua calon siswa mundur saat diminta membuat pakta integritas di SMA Negeri 2 Purwokerto.

Lebih lanjut Yunarso Adi menegaskan, meski diketahui memalsukan SKTM, namun sekolah tak serta merta mengeluarkan calon siswa dari daftar calon siswa. Ia hanya dikeluarkan dari daftar siswa dengan pertimbangan khusus untuk keluarga miskin.

Namanya tetap akan bersaing dalam daftar siswa yang masuk melalui jalur umum atau nilai, dengan sistem perangkingan. Jika nilainya masuk rangking sesuai kuota, maka otomatis ia tetap masuk ke sekolah negeri.

“Ada ranking, Mas. Jurnal harian masih muncul. Tetapi dengan dia mencabut SKTM-nya, kan dia akan tergantung pada nilainya, nilainya memenuhi apa tidak. Kalau nilainya memenuhi, dia otomatis akan masuk tanpa SKTM,” jelasnya.

Ia pun mengapresiasi orang tua calon siswa yang mencabut SKTM-nya. Mereka menunjukkan integritas atau kejujuran. Sebab, tujuan pakta integritas ini adalah edukasi untuk berlaku jujur sejak dini untuk anak didik dan juga orang tua.

Ia juga berharap agar tak ada lagi orang tua yang menghalalkan segala cara untuk memasukkan anaknya ke sekolah negeri.

Reporter: Ridlo Susanto
Editor: G.A. Guritno

G.A Guritno
07-07-2018 09:04