Main Menu

Peluang Embun Es Muncul Lagi, Makin Merusak Lahan Kentang di Dieng

G.A Guritno
10-07-2018 09:28

Embun es di Dieng Kulon, Banjarnegara hingga Sembungan, Kejajar, Wonosobo. (Dok. Pemdes Dieng Kulon/re1)

Banjarnegara, Gatra.com – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan embun es atau bun upas masih berpotensi terjadi di Dataran Tinggi Dieng (DTD) pada musim kemarau ini.

 

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Banjarnegara, Setyo Aji Prayoedi mengatakan embun es biasanya memang muncul pada puncak kemarau antara Juli-Agustus. Sejumlah parameter bisa menjadi tanda munculnya embun es.

Antara lain, suhu siang rata-rata yang turun kisaran 10-12 derajat Celcius. Bisa dipastikan, pada dinihari suhu akan turun lagi di kisaran lima derajat Celcius. Saat itu lah, embun es berpotensi muncul di Dieng.

Namun, ia mengaku pihaknya tak bisa memprediksi secara pasti kapan waktu tepat munculnya embun es. “Kalau potensi sih sebenarnya kita masih bulan kemarau, puncaknya memang Agustus,” katanya.

Dia menjelaskan, embun es juga dipengaruhi oleh faktor regional. Embun es kali ini, selain karena suhu yang turun pada kemarau juga dipengaruhi oleh angin Monsoon Australia yang membawa suhu dingin, terutama di wilayah Indonesia di selatan garis Khatulistiwa.

“Nggak. Pengaruh Aphelion tidak berdampak signifikan,” ujarnya.

Dia mengemukakan, dengan berakhirnya pengaruh angin Monsoon Australia, kemungkinan temperatur turun ke nol derajat celcius kecil peluangnya. Namun, suhu dingin di bawah 10 derajat Celcius masih berpeluang terjadi, terutama di daerah dataran tinggi.

“Kalau potensi bun upas sih, kalau catatan seminggu terakhir ini, memang potensi ke depannya potensi di bawah nol tidak ada ya. Tetapi temperatur di bawah 10 derajat celcius itu masih memungkinkan. Tergantung tempatnya juga,” jelasnya.

Setyo Aji mengaku tak bisa memastikan apakah setelah muncul embun es pada Jumat lalu, bakal muncul kembali embun es pada kemarau yang diprediksi berlangsung hingga Oktober ini. Namun ia menyebut pada Agustus peluang munculnya embun es masih bisa terjadi, dengan prasyarat kembali terjadi suhu yang berada di titik beku.

“Dari catatan di Banjarnegara itu, bun upas paling lama antara tiga hari sampai seminggu. Agustus karena puncak kemarau,” ujarnya.

Oleh karena itu, BMKG mengimbau agar petani mewaspadai kemungkinan embun es dengan tidak menanam kentang saat musim kemarau. Jika pun tetap menanam, petani diminta untuk memperhatikan informasi cuaca dan iklim agar saat embun es berpotensi muncul, tanaman kentang sudah berusia tua dan resisten.

Diketahui, Jumat dinihari (6/7) lalu embun es menyelimuti kawasan cukup luas. Embun es dilaporkan muncul di kompleks Candi Arjuna Desa Dieng Kulon Batur Banjarnegara, hingga Bukit Sikunir, Desa Sembungan Kecamatan Kejajajar Kabupaten Wonosobo, yang juga masih satu kawasan di Dataran Tinggi Dieng.

Di luar dampak positifnya yang menaikkan tingkat kunjungan wisatawan, embun es yang muncul juga berdampak negatif terhadap pertanian warga. 35 hektare tanaman kentang di Desa Dieng Kulon rusak akibat embun es.

Reporter: Ridlo Susanto
Editor: G.A. Guritno

G.A Guritno
10-07-2018 09:28