Main Menu

Unik, Daftar Ulang Masuk Sekolah dengan Hasil Pertanian

G.A Guritno
12-07-2018 01:37

Orang tua siswa membawa hasil bumi sekadarnya untuk membayar biaya daftar ulang di MTs Pakis Cilongok, Banyumas. (GATRA/Ridlo Susanto/FT02)

Banyumas, Gatra.com – Ada yang berbeda di Madrasah Tasnawiyah atau MTs Pakis Desa Gunung Lurah Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah ini. Di hari daftar ulang, calon siswa tak membayar menggunakan uang, melainkan dengan hasil bumi.

 

Sekolah menerapkan kebijakan untuk daftar ulang siswa menggunakan hasil bumi atau hasil pertanian orang tua calon siswa. Untuk menjadi siswa di sekolah ini, mereka tak perlu daftar ulang menggunakan sejumlah uang.

Kepala MTs Pakis, Isrodin mengatakan tahun ini sebanyak 13 siswa telah mendaftar ulang. Mereka melengkapi semua prasyarat masuk sekolah pada Selasa (10/7.

Dalam daftar ulang tersebut, orang tua cukup membawa hasil kebun, seperti kelapa, singkong, pisang, talas dan berbagai macam sayuran seperti kangkung, pare dan welok.

“Yang mendaftar dan kita rekrut ada 13 anak. Ya, setiap tahun memang selalu seputar pendaftaran menerapkan seperti itu. Kalau tahun ini hasil bumi,” katanya.

Menurut dia, agar tak memberatkan orang tua siswa, mereka pun tak diharuskan untuk membawa hasil pertanian dalam jumlah tertentu. Dia mencontohkan, calon siswa bernama Saepuri dan orang tuanya, Darso membawa dua ikat ketela bersama pangkal batangnya.

Adapun siswa lainnya, Nia Anzalia dan ibundanya, Waridah membawa dua ikat talas. Begitu pula dengan siswa lain yang membawa satu atau dua kilo kacang panjang dan welok.

“Ya ada yang membawa, kelapa, pisang, singkong, dan sayuran berbagai macam,” ujarnya.

Dia menerangkan, tiap tahun MTs Pakis memang selalu menerapkan kebijakan yang ringan untuk calon siswanya. Tujuannya agar anak-anak yang berada di pinggi hutan Gunung Slamet ini memperoleh kesempatan belajar yang sama dengan anak-anak yang berada di wilayah utama desa atau perkotaan.

Kebijakan unik dan terjangkau seperti ini juga dilakukan pada tahun 2017 lalu, di mana orang tua siswa membawa alat pertanian. Tahun sebelumnya, 2016, calon siswa cukup membawa benih tanaman. Saat pendidikan, siswa juga tak dibebani dengan biaya apa pun alias gratis hingga lulus.

“Tahun kemarin, alat pertanian. Nah untuk tahun ini dengan hasil bumi. Sekolahnya gratis,” jelasnya.

Isrodin mengemukakan, kebijakan agar orang tua membawa hasil kebunnya juga merupakan bentuk keterlibatan langsung orang tua terhadap pendidikan anak-anaknya. Sebab, MTs Pakis memang sekolah alam berbasis agroforestry, yakni sekolah yang mengkombinasikan pendidikan formal dengan pendidikan pertanian dan kehutanan.

Dalam kesehariannya, siswa tak hanya duduk di dalam kelas. Mereka justru lebih banyak menghabiskan waktu di lapangan, seperti praktek membibit tanaman, merawat lahan pertanian, atau masuk ke dalam hutan untuk mengenal kekayaan hayati hutan di lereng Gunung Slamet.

Dengan masuknya 13 siswa baru ini, MTs Pakis memiliki 31 siswa. Dengan rincian, siswa kelas 9 delapan siswa, kelas 8, 10 siswa dan siswa baru 13 orang. Isrodin juga berharap masih banyak anak-anak tak mampu di pinggir hutan Gunung Slamet yang menyekolahkan anaknya di MTs Pakis. Sebab, sekolah ini gratis tanpa biaya.

“Ya mungkin ada penambahan siswa. Tapi jumlahnya mungkin tidak banyak, satu atau dua anak,” dia menambahkan.

Reporter: Ridlo Susanto
Editor: G.A. Guritno

G.A Guritno
12-07-2018 01:37