Main Menu

Gelombang Tinggi Memakan Korban dan Porakporandakan Pantai Selatan

G.A Guritno
20-07-2018 13:13

Kondisi pantai Sodong dan Widarapayung, Cilacap porakporanda dihantam gelombang tinggi laut selatan. (Dok.BPBD Cilacap/yus4)

Cilacap, Gatra.com – Musim angin timuran di Samudera Hindia memicu gelombang tinggi di perairan pantai selatan Jawa Tengah harus diwaspadai oleh warga yang beraktivitas di sekitar pantai tersebut.

 

Selain berdampak di Kebumen, gelombang tinggi juga memorakporandakan Pantai Sodong dan Widarapayung Kecamatan Adipala Kabupaten Cilacap, Kamis dinihari hingga Kamis pagi (19/7).

Kepala Pelaksana Harian (Lakhar) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Tri Komara Sidhy mengatakan secara total terdapat 60-an warung yang rusak di kedua pantai.

“Kondisi di pesisir pantai porak poranda, dalam artian rusak. Warung-warung bedeng lah, kayu, sehingga tak memiliki kekuatan,” katanya, Rabu malam.

Masing-masing di Pantai Widarapayung terdapat 53 unit, adapun di Pantai Sodong tujuh unit. Namun, kerusakan parah hanya terjadi pada 48 warung bedeng di dua pantai tersebut.

Dia menjelaskan, bangunan yang rusak berada di area sempadan pantai yang mestinya bebas dari bangunan apa pun. Sempadan ditetapkan sepanjang 100 meter dari garis pantai normal. Dia menyatakan seluruh bangunan yang rusak berada di sempadan.

“Dan itu melebihi garis sempadan pantai yang harus dihindari, tidak diperbolehkan mendirikan warung atau bangunan,” jelasnya.

Sebab itu, BPBD tak menganggarkan perbaikan untuk warung-warung yang rusak ini. Diperkirakan, tiap warung yang rusak menderita kerugian hingga Rp 2.000.000, sehingga secara keseluruhan kerugian ditaksir mencapai Rp 96 juta.

Tri Komara mengemukakan, lantaran melanggar aturan, warung-warung ini akan digeser ke area di luar sempadan. Hal itu sesuai dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 51 tahun 2016 tentang batas Sempadan pantai. Dalam Perpres itu, sempadan pantai ditentukan minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah barat.

“Ya, nanti, karena pemilik warungnya menyadari bahwa itu area berbahaya, mereka akan memperbaiki sendiri,” terangnya.

Dia pun mengimbau agar para pedagang mentaati aturan ini. Sebab, yang menderita kerugian jika terjadi bencana adalah mereka sendiri.

Sementara, Koordinator Basarnas Pos SAR Cilacap, Moelwahyono mengatakan selain menyebabkan, kerusakan, gelombang tinggi di perairan Cilacap juga menyebabkan korban jiwa. Tiga nelayan tenggelam di Pantai Kemiren, Rabu. Dua nelayan berhasil selamat, namun satu orang lainnya hilang tenggelam.

Tiga orang tersebut merupakan anak buah kapal (ABK) Kapal Motor Yati Putra. Rabu (18/7/2018) sekitar pukul 06.00 WIB, tiga orang tersebut, yakni Nasimin(35) yang juga pemilik perahu, Mas Marta (75) dan Sugiono (30) berangkat dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kemiren.

Baru saja berangkat, perahu terhempas gelombang setinggi tiga meter dan terbalik. Akibatnya, ketiga orang itu turut tenggelam. Nasimin dan Mas Marta selamat, namun Sugiono hilang terseret arus

Reporter: Ridlo Susanto
Editor: G.A. Guritno

G.A Guritno
20-07-2018 13:13