Main Menu

Gumuk Pasir Parangtritis Dinilai Makin Kritis

Mukhlison S Widodo
20-07-2018 17:13

Gumuk pasir di kawasan Parangtritis, Bantul, DIY.(GATRA/Arif Koes/re1)

Yogyakarta, Gatra.com - Kondisi gumuk pasir di kawasan Parangtritis, Bantul, Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta, dinilai semakin kritis.

 

Permukiman, kegiatan ekonomi, penanaman tanaman invasif, penambangan pasir laut ilegal, hingga pembangunan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) menjadi ancaman satu-satunya gumuk pasir di Indonesia ini hingga 20 tahun mendatang.

Padahal gumuk pasir kondisi geografi yang langka. Di dunia, gumuk pasir di daerah tropis hanya ada dua. Selain Indonesia, gumuk pasir sejenis ada di Meksiko.

Kondisi ini terungkap dalam kunjungan Komisi VII DPR RI ke Parangtritis Geomaritime Science Park (PGSP), Jumat (20/7). 

Dalam kunjungan ini, enam anggota Komisi VII yang dipimpin Tamsil Linrung.

Di depan anggota dewan, Kepala Pusat Penelitian, Promosi dan Kerjasama Badan Informasi Geospasial Wiwin Ambarwulan menjelaskan kontur gumuk pasir Parangtritis berubah drastis dalam 41 tahun terakhir.

“Jika dibandingkan dengan peta gumuk pasir pada 1976, kondisi gumuk pasir pada 2017 masuk kategori membahayakan,”  jelasnya.

Permukiman dan kegiatan ekonomi termasuk pertanian membuat gumuk pasir yang dulu bersih kini dipenuhi berbagai tanaman invasif.

Dengan luas total 413 hektar, kawasan gumuk pasir Parangtritis terbagi atas tiga zona yaitu zona inti 141,5 hektar, zona terbatas 95,3 hektar, dan zona penunjang 176,6 hektar.

Wiwin menjelaskan, ancaman lain bermotif ekonomi  juga membahayakan gumuk pasir seperti penambangan liar, wisata taman bunga, serta pembangunan JJLS .

“Saat ini dibutuhkan usaha dan kerjasama dari semua pihak untuk menjaga keberlangsungan gumuk pasir sebagai keajaiban alam yang memiliki banyak manfaat baik penelitian maupun wisata,” ujarnya.

Anggota Komisi VII DPR RI dari DI Yogyakarta Agus Sulistyono berharap konservasi secara radikal harus dilakukan pemerintah di semua tingkat.

“Pemerintah harus berani membersihkan permukiman maupun pepohonan yang mengganggu pembentukan gumuk pasir oleh alam, termasuk menghentikan berbagai kegiatan ekonomi,” kata Agus.

Menurut dia, gumuk pasir Parangtritis salah satu aset berharga yang dimiliki Indonesia. Agus melihat tanpa ada langkah radikal konservasi, keberadaan gumuk pasir akan hilang 20 tahun mendatang.

Selain itu,  program pemerintah yang tak selaras, terutama pembangunan JJLS juga memberi dampak besar pada kerusakan gumuk pasir. 

Seharusnya, kata Agus, JJLS bisa  direncanakan dengan matang dengan dibangun jauh di sisi utara gumuk pasir.

Pandangan berbeda diungkapkan Dekan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada   sekaligus peneliti gumuk pasir, Muhammad Aris Marfai. 

Menurut dia, selama tidak mengganggu zona inti, berbagai kegiatan masyarakat tidak akan mengganggu kelestarian gumuk pasir.

“Saat ini progres penataan kawasan gumuk pasir oleh pemerintah semakin positif. Semua kepentingan baik konservasi, rehabilitasi, maupun kegiatan ekonomi sudah terakomodasi," jelasnya.

Aris melihat keberadaan zona inti seluas 141 hektar yang harus diperhatikan semua pihak. Keberadaan lorong angin, yang dibuat dengan menghilangkan permukiman dan tanaman di sisi selatan zona inti, diharapkan mampu membuat gumuk berkembang dan hidup lagi.

Meski tanaman di gumuk dianggap invasif, Aris menilai objek wisata taman bunga  di sisi barat gumuk pasir tidak berbahaya karena siklus  gumuk pasir sudah tak terjadi.

“Kalau JJLS, saya melihat harus ada sabuk pengaman di sepanjang area yang melintasi zona inti agar pasir tidak masuk ke jalan raya. Ini akan membahayakan. Penataan di kawasan JJLS juga perlu diatur karena akan menjadi daerah padat,” katanya.


Reporter : Arif Koes
Editor : Mukhlison 

Mukhlison S Widodo
20-07-2018 17:13