Main Menu

Meski Gelombang Tinggi Terjadi, Ada Nelayan Cilacap Nekat Melaut

G.A Guritno
24-07-2018 21:59

Nelayan Cilacap nekat melaut meski gelombang tinggi terjadi di laut selatan awal pekan ini. (GATRA/Ridlo Susanto/FT02)

Cilacap, Gatra.com – Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini gelombang setinggi enam meter yang berpotensi terjadi di laut selatan Jawa pada 23-25 Juli 2018 esok. Namun, masih banyak nelayan Cilacap tetap melaut.

 

Ketua Kelompok Nelayan Pandanarang Tarmuji mengatakan pihaknya menerima peringatan dini pada Senin 23 Juli lalu. Peringatan ini pun sudah disebar ke kelompok nelayan di Pandanarang.

Tetapi, ternyata masih tetap banyak nelayan yang melaut. Pasalnya, sebagian besar nelayan tak memiliki pekerjaan lain.

Menurutnya, dari sekitar 480 perahu di Pandanarang, sekitar 20 persennya tetap memalut. Adapun lainnya, memilih menambatkan perahu lantaran khawatir gelombang tinggi.

“BMKG telah mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi dan sudah diterima teman-teman kita. Tapi mau bagaimana lagi, karena untuk memenuhi kebutuhan juga,” katanya, Selasa (24/7/2018).

Tarmuji pun mengakui nelayan takut dengan gelombang tinggi yang kini sedang terjadi di Laut Selatan. Sebab itu, mereka pun tak melaut dengan jarak terlampau jauh dari pantai. Dengan demikian, jika sewaktu-waktu terjadi gelombang tinggi, nelayan bisa secepatnya mendarat ke pantai.

“Melautnya tidak bisa jauh, paling lima mil atau tujuh mil laut,” ujarnya.

Turmuji menjelaskan, untuk menghindari terjangan gelombang tinggi, sebagian nelayan Pandanarang juga memindahkan perahu-perahu mereka ke daratan. Dengan begitu, saat terjadi gelombang tinggi, perahu aman dari hantaman.

“Sebagian besar nelayan yang tidak melaut melakukan perbaikan kapal mereka. Agar siap digunakan saat cuaca membaik dan aman untuk berlayar,” ujarnya.

Selain karena terjadi gelombang tinggi, menurut Turmuji, sebagian besar nelayan tidak melaut karena musibah yang dialami tiga nelayan di Pantai Kemiren dan Kebumen saat melaut pada Rabu pekan kemarin.

“Sebenarnya sih kita juga takut. Perahunya jukung viber. rata-rata awaknya dua orang,” jelasnya.

Dia menambahkan, perahu jukung yang memang berukuran kecil berbahaya jika digunakan melaut pada kondisi gelombang tinggi. Perahu bisa terbalik atau bahkan pecah saat dihantam gelombang tinggi.


Reporter: Ridlo Susanto
Editor: G.A. Guritno

G.A Guritno
24-07-2018 21:59