Main Menu

Dampak Kemarau Meluas, 12 Desa di Cilacap Semakin Krisis Air Bersih

G.A Guritno
24-07-2018 22:08

Krisis air bersih di cilacap meluas, 12 desa terdampak. (GATRA/Ridlo Susanto/FT02)

Cilacap, Gatra.com – Memasuki bulan kedua kemarau, dampak kekeringan dan krisis air bersih di Cilacap, Jawa Tengah semakin meluas. Kini, krisis air bersih sudah melanda 12 desa di empat kecamatan wilayah kabupaten pesisir selatan Jawa Tengah ini.

 

“Ada 12 desa di empat kecamatan,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Martono, Selasa (24/7).

Dia mengatakan pekan lalu, krisis air bersih baru terjadi di delapan desa di tiga kecamatan. Tiga kecamatan tersebut yakni, Kawunganten, Bantarsari dan Patimuan.

Namun, di awal pekan ini desa yang mengalami krisis air bersih bertambah dengan masuknya kecamatan Gandrungmangu. Secara total, awal pekan BPBD telah mengirimkan sebanyak 50 tangki air bersih ke 2.331 keluarga yang terdiri dari 8.715 jiwa di 12 desa 4 kecamatan.

“Kecamatan Gandrungmangu, Kawunganten, Bantarsari dan Patimuan. Tambahannya Gandrungmangu,” jelasnya.

Martono mengemukakan, tahun 2018 ini, BPBD mengalokasikan 80 tangki bantuan air bersih. Dia pun mengakui, jumlah ini masih kurang jika melihat perkembangan krisis air bersih yang semakin meluas. Sebab itu, BPBD akan kembali mengalokasikan bantuan air bersih.

Jika masih kurang, maka BPBD akan bekerjasama dengan sejumlah perusahaan, baik perusahaan swasta maupun badan usaha negara atau daerah untuk turut membantu pengadaan air bersih.

“Kita (tahun 2018 ini) mengalokasikan 80 tangki air bersih. Kalau masih kurang kita juga mengajukan permohonan CSR ke dunia usaha,” ujar Martono.

Martono mengemukakan, Cilacap adalah salah satu daerah dengan wilayah krisis air bersih terbanyak di Jawa Tengah. Di kabupaten ini, dari 284 desa dan kelurahan, ada 77 desa di 13 kecamatan yang rawan kekeringan dan krisis air bersih.

Reporter: Ridlo Susanto
Editor: G.A. Guritno

G.A Guritno
24-07-2018 22:08