Main Menu

Dua Film Ini Menangi Festival Film Purbalingga 2018

Mukhlison Sri Widodo
06-08-2018 15:49

Dua film berlatar peristiwa 1965 memenangi kategori film fiksi dan dokumenter terbaik FFP 2018. (GATRA Ridlo Susanto/FFP Purbalingga/RT)

Purbalingga, Gatra.com – Dua film pendek besutan pelajar berlatar tragedi 1965 kembali memenangi Festival Film Purbalingga (FFP) 2018. 


 

Kemenangan dua film ini seolah mengulang peristiwa serupa pada ajang FFP 2016 lalu.

Film Fiksi Terbaik FFP 2018 disabet “Melawan Arus” sutradara Eka Saputri, produksi SMK Negeri 1 Kebumen. 

Adapun Film Dokumenter Terbaik diraih “Sum” sutradara Firman Fajar Wiguna produksi SMA Negeri 2 Purbalingga.

Sementara, pada 2016, dua film berlatar tragedi 1965 juga berjaya di FFP. Dua film tersebut yakni, “Izinkan Saya Menikahinya” dan “Kami Hanya Menjalankan Perintah, Jenderal!”.

Sutradara Film Melawan Arus, Eka Saputri mengatakan film Melawan Arus yang difasilitasi Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) ini berkisah sepasang suami istri yang mempertahankan hak atas tanah namun difitnah keturunan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Yono, sang suami, patah semangat untuk bertahan di tanah yang menjadi sengketa dengan aparat. Ia mengajak istrinya, Siti, pindah. 

Siti tetap teguh dengan pendiriannya dan tetap tinggal dan bercocok tanam. Film berdurasi 10 menit ini meriset konflik tanah di Urut Sewu, Kebumen.

“Kami berharap film kami dapat menginspirasi penonton bagaimana keberanian masyarakat petani di Urut Sewu dalam mempertahankan hak atas tanah,” katanya, melalui keterangan tertulis yang diterima GATRA, Minggu (5/8).

Menurut salah satu juri fiksi, Teguh Trianton, film “Melawan Arus” berhasil mengeksplorasi sisi-sisi psikologis penonton. 

Menurut dia, film ini bisa menjadi bahan renungan sekaligus pertanyaan atas apa yang terjadi di Urut Sewu.

“Film ini dapat menyisakan perenungan yang dalam dan menyisakan pertanyaan yang jawabannya dapat dicari di luar film,” kata juri dari unsur akademisi ini.

Adapun Film Sum, bercerita tentang perempuan bernama Suminah bekas aktivis Barisan Tani Indonesia (BTI). 

Setelah menghuni penjara selama 13 tahun, Sum hidup dalam kesendirian. Ia terus menunggu berbaliknya realita zaman.

Dalam catatan dewan juri dokumenter, film berdurasi 15 menit tersusun melalui pilihan-pilihan gambar yang estetis dan rangkaian penuturan informasi yang jelas.

“Sebagai upaya komunikasi visual, film ini memperkaya bahasa tentang sejarah nasional melalui perspektif akar rumput sekaligus korban yang berdampak oleh ekses pertarungan politik di tingkat nasional,” ujar salah satu juri, Adrian Jonathan Pasaribu.

Pada Film Fiksi Favorit Penonton dimenangkan film “Umbul-Umbul” sutradara Atik Alvianti produksi SMK HKTI 2 Purwareja Klampok Banjarnegara. 

Sementara Film Dokumenter Favorit Penonton berpihak pada “Warisan Tak Kasat Mata” sutradara Sekar Fazhari dari SMA Negeri Bukateja Purbalingga.

Direktur FFP, Bowo Leksono mengatakan penghargaan Lintang Kemukus kategori seni dan budaya kontemporer Banyumas Raya dianugerahkan kepada R Soetedja (1909-1960).

“Ia adalah seorang komposer asal Banyumas dan Grup Musik Kamuajo dianugerahi penghargaan Lintang Kemukus kategori seni dan budaya kontemporer,” kata Bowo.

Plt. Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi yang hadir di acara puncak FFP 2018 mengatakan, Pemerintah Daerah Kabupaten Purbalingga berkomitmen terus mendukung kegiatan perfilman dan festival film di Kabupaten Purbalingga.

“Selain sebagai ajang silaturahmi, kegiatan perfilman juga menjadi ajang menorehkan nama baik kabupaten masing-masing dengan prestasi,” kata Dyah Pratiwi.


Reporter : Ridlo Susanto
Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
06-08-2018 15:49