Main Menu

Keturunan Pakubuwono X Klaim Tanah Bandara Baru Jogja

Mukhlison Sri Widodo
07-08-2018 18:27

Cucu ketiga Pakubuwono X Muhammad Munier Tjakraningrat bersama pengacaranya Wartono Wirjasaputra. (GATRA/Arif Koes/FT02)

Yogyakarta, Gatra.com - Keturunan Pakubuwono X mengklaim punya bukti baru bahwa Pakubuwono X memiliki tanah 1.294 hektar di Kecamatan Temon, Kulon Progo, DI Yogyakarta yang sebagiannya kini jadi lahan bandara baru. Klaim ini terkait ganti rugi sekitar Rp600 milyar.

 

Melalui pengacaranya Wartono Wirjasaputra, cucu ketiga Pakubuwono X  Muhammad Munier Tjakraningrat menyebut bukti baru kepemilikan tanah itu berupa surat tanah yang dikeluarkan Belanda (eigendom) bernomor 674, Verponding Nomor 1511, tertanggal 19 Mei 1916.

“Eigendom itu menyatakan pemilik sah 1.294 hektar tanah adalah GKR Hemas atau GRAy. Moersoedarinah sebagai ibu kandung Munier dan putri tunggal Pakubuwono X dengan GKR Pembayun,” kata Wartono kepada wartawan, Selasa (7/8) di Sleman, DI Yogyakarta.

Dokumen itu menyatakan tanah milik Pakubuwono X tersebar di dusun Glagah seluas 372 hektar, Kebonrejo (131), Palihan (266), Sindutan (242), dan Jangkaran (283).

Menurut dia, bukti baru eigendom itu diperkuat surat bernomor 102/PDT.G/2017/PN.Yyk dari Pengadilan Negeri (PN) Kota Yogyakarta pada 19 Juli 2018. 

Dalam surat itu, PN Kota Yogyakarta menolak tuntutan gugatan atas nama Suwarsi dan tujuh saudaranya kepada Kadipaten Paku Alam untuk diakui sebagai keturunan sah Pakubuwono X. 

Pihak Suwarsi ini sebelumnya juga mengklaim berhak atas tanah bandara tersebut.

“Di pengadilan penggugat tidak bisa menunjukan surat kepemilikan tanah yang asli. Demikian juga dengan tergugat,” kata Wartono.

Selain eigendom, Wartono menyatakan pihaknya memiliki bukti lain yang menyatakan Waluyo, ibu Suwarsi bersaudara, bukan GKR Hemas. 

Bukti itu menyebut Waluyo dan suaminya Wugu Harjo Sutirto sama sekali tidak terkait dengan Keraton Solo.

Dengan bukti baru ini, Wartono meminta semua proses pembayaran ganti rugi kepada pemilik lahan, yakni Sri Paduka Paku Alam X ditunda dan direvisi oleh PT Angkasa Pura II. 

Nilai ganti rugi itu sekitar Rp600 milyar.

Permintaan pemblokiran oleh keluarga Munier sudah disampaikan ke PT Angkasa Pura II pada 25 Juli 2018. 

“Kami siap diundang berkomunikasi dengan perwakilan Kadipaten Paku Alam dan PT Angkasa Pura II guna membuktikan klien kami keturunan sah dari Pakubuwono X. Klien saya menyatakan siap dipertemukan,” lanjut Wartono.

Wartono menyatakan jika tidak ada undangan koordinasi dan musyawarah dengan kedua pihak tersebut, kliennya akan menempuh jalur hukum.

Wartono menyebut pihaknya baru menuntut hal ini saat ini karena menunggu putusan atas gugatan Suwarsi.

Mewakili keluarga besarnya, Munier mengatakan keluarganya mendukung pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport.

“Tapi karena nama baik dan harga diri keluarga kami dirusak, kami menuntut pihak berwenang mencairkan dan memberikan ganti rugi sesuai besaran tanah yang digunakan untuk bandara,” kata Munier.


Reporter : Arif Koes
Editor : Mukhlison 

Mukhlison Sri Widodo
07-08-2018 18:27