Main Menu

Puncak Panen Raya, Harga Ubur-Ubur di Cilacap Turun Drastis

Mukhlison S Widodo
11-08-2018 08:59

Nelayan Cilacap menurunkan ubur-ubur hasil tangkapan. (GATRA/Tarmuji/Ridlo Susanto/yus4)

Cilacap, Gatra.com –  Harga ubur-ubur di Cilacap, Jawa Tengah turun menjadi Rp 600 per kilogram pada puncak musim ubur-ubur tahun ini. 

 

Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya, harga rata-rata ubur-ubur berkisar Rp 1.000 per kilogram dengan harga tertinggi mencapai Rp 1.200 per kilogram.

Ketua Kelompok Nelayan Pandanarang, Tarmuji mengatakan, penurunan harga ubur-ubur ini disebabkan over produksi di perairan selatan Cilacap. 

Pasalnya, puluhan ribu nelayan secara bersamaan menyetor dengan jumlah berlimpah.

Tiap hari nelayan perahu kecil dengan ukuran perahu di bawah 5 groos ton setidaknya memperoleh satu ton ubur-ubur. Seringakali, jika masih ada waktu, mereka akan kembali melaut untuk kembali mencari ubur-ubur. Rata-rata satu perahu bisa peroleh antara 2-3 ton per hari.

“Harganya Rp 600 per kilogram. Kalau mungkin ada rejeki bagus, jam 9 pagi sudah dapat 1 ton ya balik, menyetorkan ubur-ubur dulu, ada yang kembali lagi kalau masih ada waktunya, begitu.  Ini sedang banyak-banyaknya ubur-uburnya,” katanya, Jumat (10/8).

Menurut dia, puncak musim ubur-ubur ini tak berimbang dengan jumlah tengkulak dan pengusaha pengolahan ubur-ubur setengah jadi. 

Sebab itu, pengusaha tidak tiap hari buka. Saat pasokan sudah penuh, mereka tidak menerima ubur-ubur.

Nelayan pun harus menyesuaikan dengan kebutuhan ubur-ubur pengusaha. Mereka akan libur melaut, atau kembali mencari ikan.

“Kendalanya ini dari pihak pengusaha mungkin terlalu over produknya apa ya. Sebentar-sebentar tutup, bukan dua hari tutup lagi. Ya, nelayan menyesuaikan tidak berangkat,” ujarnya.

Tarmuji mengungkapkan, pengusaha pengolahan ubur-ubur terkendala lokasi pengolahan. Sebab, ubur-ubur harus dibersihkan terlebih dahulu. 

Ubur-ubur ini juga dipotong bagian tubuhnya yang tak berguna, seperti kepala. Selanjutnya, ubur-ubur direndam dengan garam dan tawas.

Ubur-ubur yang sudah bersih dan direndam dalam larutan garam dan tawas ini kemudian dijemur agar kering. 

Setelah kering, ubur-ubur akan dikemas dan diekspor. Ubur-ubur tersebut akan dimanfaatkan sebagai bahan kosmetik. “Ke Jepang dan China ekspornya,” imbuhnya.

Dia menambahkan, lokasi pengolahan ubur-ubur di Cilacap semakin terbatas. Sebab, limbahnya banyak diprotes oleh warga. Sebab itu, banyak tempat pengolahan ubur-ubur tutup.


Reporter : Ridlo Susanto
Editor : Mukhlison

Mukhlison S Widodo
11-08-2018 08:59