Main Menu

Pedagang Minta Pemkot Surabaya ’’Hidupkan’’ Pasar Turi Baru

Iwan Sutiawan
22-08-2018 19:05

Pasar Turi Surabaya (GATRA/Abdul Hady JM/yus4)

Jakarta, Gatra.com - Sejumlah pedagang Pasa Turi, Surabaya, mengharapkan semua pihak terkait segera menyelesaikan masalah administrasi tentang revitalisasi pasar tempat mereka berjualan. Berlarut-larutnya proses penyelesaian telah merugikan para pedagang.

Djaniadi Hadi Sadikin, salah satu pedagang yang saat ini menempati stan Pasar Turi Baru, Surabaya, Jawa Timur (Jatim), Rabu (22/8), menyampaikan, hingga saat ini belum mendapatkan sertifikat. Bahkan ia mendapat informasi, bahwa izin operasional pasar pun belum diterbitkan Pemkot Surabaya.

Menurutnya, kondisi ini membuatnya resah karena masalah ini seolah dibiarkan berlarut-larut. Terlebih, pengunjung dan pembeli pascapembangunan gedung baru pasar ini tidak seperti sebelumnya. Salah satu pemicunya adalah pasar belum fungsikan secara maksimal.

"Ya bayangkan saja, ini ada yang mengisi stan di dalam, tapi ada juga yang tetap bertahan di TPS [Tempat Penampungan Sementara], padahal gedungnya sudah selesai dibangun," kata pria yang akrab disapa Kho Ping itu.

Menurut Kho Ping, harusnya pemerintah membongkar TPS karena sudah tersedia stan permanen untuk menampung para pedagang di gedung baru Pasar Turi. Pembongkaran tersebut merupakan bukti keberpihakan Pemkot Surabaya untuk menjadikan Pasar Turi sebagai pusat aktivitas perekonomian.

"Ini kan sudah selesai serah terima. Kami juga sudah lunasi semua administrasinya. Yang kami minta kami diperhatikan, pasar ini kembali ramai dan perekonomian hidup," katanya.

Selaku pedagang, Kho Ping mengaku tidak mau ikut campur soal konflik antara pengembang Pasar Turi dan pemerintah setempat. Ia hanya menginginkan pasar kembali ramai dan para pedagang bisa berjualan secara tenang.

"Masalah itu [konflik] bukan urusan kami, itu urusan beliau-beliau itulah, silakan selesaikan secepatnya agar kami tidak terombang-ambing begini," ungkapnya.

Karena itu, Kho Ping meminta semua pihak lebih mengutamakan menghidupkan pasar. "Jangan menang-menangan urusan hukum dan tolong Pemkot turun tangan, kasihani kami," ujanya.

Bukan hanya Kho Ping, Mas'ud mengaku bahwa saat ini pasar relatif sepi setelah dibuka 3 tahun lalu dan pengunjung di penampungan relatif lebih ramai. Menurutnya, banyak pedagan yang sudah mempunyai stan di Pasar Turi Baru, tetapi tak mau berjualan di sini.

"Kami ingin seperti dulu, walaupun bersaing tapi tetap bersatu. Sedih rasanya, ikut diseret-seret kepentingan segelintir orang," kata Mas’ud.

Adapun stan yang sudah dibangun di Pasar Turi Baru mencapai 6.400 unit sejak dibangun 2014 lalu. Sebanyak 4.500 unit di antaranya sudah terjual ke pedagang yakni 3.600 unit pedagang lama dan 900 unit pedagang baru. Serah terima kios pun berlangsung sejak Desember 2014 sampai awal 2015.

Mas'ud menuturkan, pedagang awalnya sangat antusias dengan adanya kios baru. Namun pedagang lama menjadi was-was karena Direktur Utama PT.Gala Bumi Perkasa Henry J Gunawan selaku investor dan pengelola dilaporkan ke Polda Jatim karena dituduh memungut biaya sertifikat hak milik atas kios pedagang, sementara pedagang tak kunjung menerima sertifikat tersebut.

"Ternyata saya dengar di persidangan hak pengelolaan yang dari Pemkot yang belum keluar, sehingga sertifikat itu belum bisa diurus atas nama kami-kami ini," katanya.

Sesuai keterangan auditor di persidangan, lanjut Mas'ud, bahwa uang dari pembeli kios ada di pengembang sebagai uang cadangan pengurusan sertifikat strata title.

"Terkandala surat itu, karena katanya Pemkot Surabaya belum keluarkan izin. Kalau begitu, ini ada apa? Kami jadi bertanya-tanya, ini siapa yang bermain sebenarnya, kenapa kami dijadikan korban begini," katanya.

"Tapi terlepas dari itu, kepada Ibu Risma tolonglah kami, hidupkan kembali Pasar Turi ini, ditata dan ditertibkan, karena kami menghidupi keluarga dari sini," ungkapnya.


Editor: Iwan Sutiawan

Iwan Sutiawan
22-08-2018 19:05