Main Menu

Tiap Idul Adha, Sapi Betina Produktif di Cilacap Berkurang 10 Persen

Mukhlison Sri Widodo
23-08-2018 21:07

Sentra peternakan Sapi di Pulau Nusakambangan. (GATRA/Ridlo Susanto/FT02)

Cilacap, Gatra.com – Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah mencatat tiap hari raya Idul Adha, jumlah sapi betina produktif berkurang sekitar 10%. 

 

Berkurangnya jumlah betina produktif ini dinilai bakal memengaruhi target swasembada daging secara nasional.

Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Cilacap, Daryono mengatakan betina dipotong lantaran harganya yang relatif lebih murah dibanding jantan. Ketersediaan di pedagang hewan pun lebih banyak.

Menurut dia, di tahun 2018 memang belum seluruh jumlah hewan kurban terdata. “MAsih proses pendataan,” kata Daryono.

Pendataan belum bisa selesai, karena masih banyak hewan kurban yang dipotong pada hari Tasyrik yang berlangsung tiga hari setelah Idul Adha. 

Dan disinyalir masih banyak hewan kurban yang berjenis kelamin betina dipotong untuk hewan kurban.

Daryono mencontohkan, pada 2017 lalu, terdata sebanyak 3.600-an ekor sapi dipotong pada Idul Adha. Dari jumlah itu, sekitar 400 ekor di antaranya betina. Dari 400 ekor betina sebagian besar adalah betina usia produktif.

“Kemarin yang kami catat sekitar 400 (sapi betina). Itu kebanyakan di daerah barat. Itu tinggi, tinggi sekali. Ini 10 persen saja pengaruhnya sudah sangat besar sekali,” jelasnya.

Dia menjelaskan, populasi sapi di Cilacap berkisar 16 ribu ekor, campuran jantan dan betina. Dari jumlah itu, 6.000 sampai 7.000 di antarnya betina produktif.

“Sekarang populasi sapi 16 ribuan, 16 ribu ekor campuran. Yang betina usia produktif sekitar 6.000 sampai 7.000 ekor. Berkurangnya itu sampai 10 persen,” terangnya.

Daryono mengemukakan, Dinas Pertanian Cilacap sudah berkali-kali  mensosialisasikan agar hewan kurban yang dipotong berjenis kelamin jantan. Kalau pun betina, maka betina tersebut dipastikan sudah tak produktif atau usia tua.

“Kalau yang memotongnya suka betina berarti dia pelaku bisnis penyediaan hewan kurban. Kalau petani Insyaallah tidak,” ujarnya.

Menurut dia, para petani di Cilacap sejak dulu sudah mempraktekkan hanya menyembelih betina yang berusia tua atau tak produktif. 

Masalahnya, pelaku bisnis, seperti pengusaha penggemukan sapi dan pedagang hewan tak mempedulikan hal ini.

“Pemotongan betina produktif juga melanggar undang-undang,” tandasnya.

Dilansir dari website Kementerian Pertanian, penyembelihan sapi betina produktif melanggar Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 18 Tahun 2009 Tentang Peternakan Dan Kesehatan Hewan, meski ada pengecualian untuk keperluan keagamaan.

Pada pasal 18 ayat (4) disebutkan setiap orang dilarang menyembelih ternak ruminansia besar betina produktif. Pasal 86 di dalam UU tersebut mengatur sanksi pidana kurungan bagi orang yang menyembelih ternak ruminansia besar betina produktif paling singkat 1 tahun dan paling lama 3 tahun, dan denda paling sedikit Rp 100 juta dan paling banyak Rp 300 juta.


Reporter : Ridlo Susanto
Editor : Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
23-08-2018 21:07