Main Menu

Menteri Susi Isi Kuliah di Unsil: Persiapkan Diri Sambut Era Digital

Birny Birdieni
25-08-2018 11:30

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengisi kuliah umum di Universitas Siliwangi, Tasikmalaya. (Dok.KKP/RT)

Tasikmalaya, Gatra.com– Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengisi kuliah umum di Universitas Siliwangi, Tasikmalaya pada Kamis (23/8). Dalam kesempatan tersebut, Menteri Susi mengajak mahasiswa memahami tentang kemaritiman supaya bisa mempertahankan dan mengembangkan setiap potensinya.

 

Menteri Susi menjelaskan mengenai kondisi laut Indonesia, yang luasnya 70 persen dari daratan. Ia menilai masih ada pihak-pihak yang tidak memahami potensi tersebut. Hal ini membuat potensi laut tidak optimal dan berujung pada masuknya kapal-kapal asing yang datang menangkap ikan. Persoalan pencurian ikan pun perlahan terkuak dan diperkirakan sudah berlangsung sejak 1960-an. Namun lebih banyak lagi, saat belasan tahun yang lalu.

“Ini yang mungkin saya harus kasih tahu kepada mahasiswa di sini. Proses kewarganegaraan, deregistrasi, itu harus betul-betul benar dan harus sesuai dengan hukum UNCLOS dan juga IOM. Kalau tidak, ya tidak sah perubahan kewarganegaraannya. Nah, pada 2001 pemerintah melakukan itu. Akhirnya banyak kapal asing beregistrasi bendera Indonesia dan berlayar di Indonesia. Tapi isinya sama saja. Nahkodanya asing, mungkin ada beberapa ABK-nya Indonesia. Ada 1 ijin, tapi jumlah kapalnya ada yang 10 kapal, namanya sama, izinnya sama, bentuknya sama, tapi mungkin nomornya saja yang mirip-mirip,” jelas Menteri Susi dalam rilis yang diterima Gatra, Sabtu(25/8).

Lebih lanjut, Menteri Susi menceritakan, mata pencaharian masyarakat sebagai nelayan berkurang drastis dikarenakan stok ikan yang menurun. Ia pun segera melihat lautan Indonesia melalui satelit. Ia menjelaskan, saat itu lautan Indonesia, terutama bagian timur, terdeteksi banyak kapal pencuri ikan. Menteri Susi menyebut banyaknya cahaya kapal pencuri ikan di lautan Indonesia seperti ”negara terapung”.

“Ternyata di laut kita lebih dari 10 ribu kapal asing beroperasi. Mereka seperti sebuah kesatuan Negara di tengah laut. Malam kalau dilihat dari digital capture daripada satelit 2014 bulan November, lampu yang nyala justru di tengah laut, bukan di daratannya. Jadi di tengah laut, tuh seperti kota atau negara terapung,” paparnya.

“Bagaimana nelayan mau dapat ikan? Kalau kapal-kapal yang ada di lautan itu besar-besar, dan panjang jaringnya berkilo-kilo meter,” tambah Menteri Susi.

Langkah untuk memberantas pencurian ikan pun ditempuh seiring dibentuknya Satuan Tugas 115 (Satgas Pemberantasan Illegal Fishing) oleh Presiden Joko Widodo. Sebagai komandan dalam satgas tersebut adalah Menteri KKP bersama TNI AL, Baharkam Polri, Kejaksaan Agung, dan jajaran instansi lainnya. Hingga saat ini Satgas 115 telah berhasil menenggelamkan 488 kapal pencuri ikan.

"Sekarang ikan sudah banyak lagi setelah ditertibkan kapal pencuri ikan asing. Diharapkan ini mampu mendongkrak kesejahteraan rakyat, terutama para nelayan kecil," ujar Menteri Susi.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Susi mengingatkan kepada peserta kuliah umum yang hadir untuk terus menjaga kelestarian laut guna mempertahankan keberlanjutannya, yakni dengan mengingatkan kepada nelayan agar tidak menggunakan bom maupun peledak lain untuk menangkap ikan. Ia juga mengingatkan agar masyarakat selalu mengkonsumsi ikan guna mendorong kecerdasan dan intelegensi masyarakat. Sehingga masyarakat Indonesia, dapat bersaing di era globalisasi saat ini.

“Makan ikan ini juga sangat penting. Untuk apa? Untuk sumber protein, omega 3, dan IQ. Kalau bangsa kita makannya cuma beras, jagung, singkong, terlalu banyak karbohidrat. Kurang protein tentu nanti IQ-nya rendah. IQ rendah tidak bisa bersaing di MEA. Tidak bisa bersaing di MEA, nanti Indonesia cuma bisa jadi penyuplai kuli, penyuplai buruh,” jelasnya.

Selain konsumsi ikan, kebutuhan akan pelatihan (training) dinilai juga sangat penting bagi mahasiswa agar siap menghadapi persaingan global, terutama di ajang MEA. Hal ini mengingat masih tingginya surplus demografi pertumbuhan penduduk dan kesempatan kerja yang semakin sempit dan persaingan yang sengit.

Menteri Susi menyarankan agar dibukanya Fakultas Maritim di Universitas Siliwangi, dengan jurusan Ilmu Kelautan, maupun Ilmu Perikanan. “Untuk saya tentunya, melihat kita ini sudah berubah. Dari perubahan land bases pertanian, menjadi kemaritiman. Semua univeristas berlomba mengadakan fakultas kemaritiman. Ide perikanan maupun kelautan. Ini tentunya juga saya tunggu di Universitas Siliwangi,” tutupnya.


Reporter: Fitri Kumalasari

Editor : Birny Birdieni

Birny Birdieni
25-08-2018 11:30