Main Menu

Imbas Kemarau, Ratusan Kera ”Manja” Serbu Rumah dan Tanaman

G.A Guritno
28-08-2018 19:47

Kawanan monyet yang masuk ke permukiman penduduk. (GATRA/Ridlo Susanto/re1)

Banyumas, Gatra.com – Ratusan kera ekor panjang atau monyet yang hidup di hutan sekitar Masjid Saka Tunggal Desa Cikakak Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah menyerbu rumah penduduk dan lahan pertanian pada akhir Agustus 2018 ini.



Seorang warga Cikakak, Karsini (40 tahun) mengatakan monyet tersebut merusak tanaman penduduk, mulai yang berada di pekarangan hingga di lahan pertanian.

Kata dia, pada musim kemarau seperti ini, monyet semakin agresif. Pasalnya, diduga makanan di tengah hutan semakin menipis. Imbasnya, mereka masuk ke permukiman dan merusak tanaman di lahan pertanian.

“Ya rusak. Wong baru ditanam saja sudah dicabut. Itu kalau ada pohon yang ada buahnya kan dipetik, jatuh ke genteng, ya rusak,” katanya, Selasa (28/8).

Tak hanya itu, monyet naik ke atap rumah penduduk dan merusak genteng atau asbes. ada pula monyet yang masuk ke dalam rumah dan mencuri nasi seperti makanan lainnya.

“Nasi, apa saja ya diambil. Ya paling digusah (diusir). Jendela tidak boleh terbuka,” ujarnya.

Namun, untuk mengantisipasi serangan monyet, warga hanya berjaga tanpa mau menyakiti apalagi membunuh. Pasalnya, kata Karsini, kelompok monyet ini telah ada sejak ratusan tahun lalu di sekitar kawasan hutan.

“Resah sih resah. Tapi mau bagaimana lagi. Sebab monyet sudah lama ada di sini,” tandasnya.

Karsini menduga, kawanan monyet menjadi “manja” semenjak Masjid Saka Tunggal dibuka sebagai tempat wisata ziarah. Wisatawan atau peziarah yang datang kerap memberi makanan kepada monyet-monyet ini. Imbasnya, kawanan monyet tak mau mencari makanan di dalam hutan.

Menurut Karsini, sepuluh tahun lalu, monyet-monyet ini masih takut bertemu dengan manusia. Namun kini, tiap kali ada orang datang, monyet justru mengikuti. Monyet ini menunggu diberi makanan oleh wisatawan.

“Sekarang kalau ada yang datang diikuti. Dikira mau kasih makanan mungkin ya,” ucapnya.

Sebaliknya, saat tidak ada wisatawan, sebagian monyet masuk ke permukiman penduduk warga Cikakak dan masuk ke dalam rumah. Kawanan monyet juga merusak tanaman, bahkan ketika tanaman baru tumbuh.

“Ini sudah seminggu ada kiriman jagung dari Perhutani. Tapi nggak tau sampai kapan,” imbuhnya.

Reporter: Ridlo Susanto
Editor: G.A. Guritno

G.A Guritno
28-08-2018 19:47