Main Menu

Kekeringan Meluas, BPBD Cilacap Kewalahan Sediakan Bantuan Air

G.A Guritno
28-08-2018 20:02

Droping air bersih di wilayah yang mengalami krisis air bersih. (Dok. BPBD Banyumas/re1)

Cilacap, Gatra.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, Jawa Tengah nyaris kehabisan persediaan bantuan air bersih untuk daerah-daerah yang mengalami kekeringan dan krisis air bersih.



Pasalnya, dampak kemarau panjang di kabupaten pesisir selatan Jawa Tengah ujung barat ini semakin meluas. Hingga akhir Agustus ini terdata sebanyak 24 desa di 10 kecamatan mengalami kekeringan dan krisis air bersih.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Cilacap, Tri Komara Sidhy mengatakan tahun ini pihaknya menyediakan sekitar 100 tangki bantuan. Namun, hingga 27 Agustus ini, sudah terkirim sebanyak 150 tangki ke 24 desa di 10 kecamatan wilayah Cilacap yang terdampak air bersih.

“Kita tahun ini kalau tidak salah menyediakan sekitar 100 tangki, tapi yang sudah terkirim lebih dari 100 tangki,” katanya, Selasa (28/8).

Sebab itu, dia berharap bantuan dari dunia usaha dan lembaga-lembaga lain agar turut membantu penanggulangan krisis air bersih. Sementara ini, sejumlah instansi sudah bergabung, antara lain Korpri, Polres Cilacap, dan perusahaan swasta serta BUMN/BUMD melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).

Dia menjelaskan, 150 tangki bantuan air bersih itu didistriusikan ke 10.243 keluarga yang terdiri dari 35.787 jiwa di 10 kecamatan, yakni, Kawunganten, Bantarsari, Gandrungmangu, Patimuan, Kedungreja, Kampung laut, Jeruklegi, Adipala, Karangpucung, Wanareja dan Kecamatan Dayuhluhur.

“Bantuan air bersih berasal dari BPBD, PDAM Tirta Wijaya, PMI Cilacap, Polres Cilacap, CSR perusahaan serta Korpri Kabupaten Cilacap,” ujarnya.

Menurut Komara, pada tahun 2018 ini BPBD menganggarkan bantuan air bersih dalam jumlah terbatas lantaran memperkirakan tahun ini kemarau akan berlangsung normal. Pengalaman pada 2017, jumlah bantuan air bersih yang didistribusikan ke warga terdampak tak signifikan. Selain itu, terjadi pula kenaikan harga satu tangki air di PDAM.

Komara mengemukakan, informasi yang diperolehnya dari BMKG, kemarau diperkirakan bakal terjadi hingga akhir September atau awal Oktober. Awal musim hujan diperkirakan terjadi pada dasarian kedua atau ketiga Oktober 2018.

“Mudah-mudahan sampai akhir kemarau tercukupi. Pengalaman yang sudah-sudah, tahun 2016 kemarau panjang, tahun 2017 normal. Nah ini, mudah-mudahan tahun ini juga normal,” jelasnya.

Komara mengemukakan, dari 10 kecamatan yang mengalami krisis air bersih, Kecamatan Kawunganten adalah yang terparah. Di sini ada delapan desa mengalami krisis air bersih. Menyusul Patimuan dan Jeruklegi.

Di dua Kecamatan ini terdapat empat desa yang mengalami kekeringan dan krisis air bersih. Di luar itu, di masing-masing kecamatan terdapat antara satu hingga tiga desa yang terdampak krisis air bersih.

“Kecamatan ada 10. Kita persediaan masih, tapi tidak banyak. Ini ada bantuan dari Korpri sebanyak 83 tangki air bersih,” imbuhnya.

Reporter: Ridlo Susanto
Editor: G.A. Guritno

G.A Guritno
28-08-2018 20:02