Main Menu

Cerita Pilu Pedagang Pasar Turi Bertahan Hidup

Mukhlison Sri Widodo
05-09-2018 20:11

Pasar Turi Surabaya (GATRA/Abdul Hady JM/yus4)

Surabaya, Gatra.com - Konflik Pasar Turi Baru Surabaya yang berkepanjangan menyisakan cerita pilu di antara ribuan pedagang. Banyak yang bangkrut, meninggalkan stan, dan banting setir mencari usaha atau pekerjaan lain. Bahkan banyak yang menganggur.

 

Akbar Maghrobi, 28 tahun, misalnya. Robi --sapaan akrab salah satu pedagang bidang konveksi di Pasar Turi, itu terpaksa harus beralih menjadi sopir. 

Robi memiliki stan di dalam Pasar Turi Baru. Namun, terpaksa ia tinggalkan karena pengunjung begitu sepi.

Biasanya dia bersama ibunya yang menjaga stan yang dibelinya itu. "Karena semakin sepi, saya jadi sopir dan ibu yang jaga sendiri," kata Robi menuturkan, Rabu (4/9).

Hingga saat ini, konflik pengelolaan Pasar Turi belum menemui titik terang. Konflik melibatkan sejumlah pihak terutama antara Pemkot Surabaya dengan pengembang. Akibatnya, izin operasional Pasar Turi belum dikeluarkan dan revitalisasi pasar terhambat.

Pembangunan gedung Pasar Turi Baru sudah selesai sejak 2014 silam. Namun, Tempat Penampungan Sementara (TPS) belum juga dibongkar. Ini jadi salah satu bukti mandegnya revitalisasi tersebut.

Robi mencoba memilih berjualan di TPS dengan harapan ramai pengunjung dan dagangannya tetap laris. "Ternyata sama saja, juga sepi," ujarnya.

Akhirnya pria asal Pucang Sewu, Surabaya itu memutuskan mencari pekerjaan lain. Sempat bekerja menjadi distributor air mineral kemasan demi menutupi kebutuhan keluarganya. 

Namun tak berlangsung lama. Robi kemudian memilih menjadi sopir di salah satu perusahaan di Pasuruan.

"Berat memang (jadi sopir). Harus kuat melek. Saya juga harus pergi-pulang Surabaya-Pasuruan tiap hari," tutur pria yang sedang menabung untuk biaya menikah ini.

Bukan hanya Robi. Banyak pedagang lain juga mengalami nasib serupa. Kedepan, Robi berharap bisa kembali berjualan di Pasar Turi.

Dia tak mau tahu soal konflik Pasar Turi yang sudah bertahun-tahun itu. “Yang penting (pengunjung) ramai lagi seperti dulu,” tandasnya.

Nasib lebih parah dialami Yudia, 47 tahun, salah satu pedagang grosir dan eceran. Kini dia terpaksa hanya menjadi ibu rumah tangga. Hampir putus asa. Tak lagi ada harapan mendapat penghasilan dari berdagang di stan Pasar Turi.

Untuk membuka usaha di tempat lain, dirasa sangat sulit lantaran tak punya cukup modal. “Mau lamar kerjaan juga bingung kerja apa. Akhirnya ya begini nganggur, paling ngurus rumah,” tutur ibu dua anak ini.

Selama ini, Yudia jadi tulang punggung ekonomi keluarga. Dia tak menyangka, Pasar Turi yang dulu sangat ramai dan menjadi pusat grosir terbesar di kawasan Indonesia Timur ternyata berubah drastis dan mati suri seperti sekarang.

Kemegahan gedung baru yang dibangun pasca kebakaran pada 2007 ternyata tak cukup memulihkan gairah jual-beli antara pedagang dan pengunjung. Sehari jualan laku satu saja sudah syukur. “Saya nggak bisa ngarep dari situ lagi."

Semula dia berharap, pemerintah kota dan semua pihak terkait benar-benar menghidupkan kembali Pasar Turi. Namun harapan itu seolah pupus. “Saya akan mengeluh kepada siapa lagi. Gak ada yang perhatikan nasib kami," pungkasnya.


Reporter: Abdul Hady JM
Editor: Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
05-09-2018 20:11