Main Menu

Alih Fungsi Hutan Diduga Matikan Mata Air di Kebumen

Hidayat Adhiningrat P.
06-09-2018 16:24

Seorang warga menimba air di pinggiran sungai lantaran sumur telah mengering. (GATRA/Ridlo Susanto/FT02)

Kebumen, Gatra.com – Kekeringan dan krisis air bersih di Kebumen, Jawa Tengah akibat kemarau panjang telah melanda sebanyak 44 desa di 11 kecamatan. Sebagian besar desa yang mengalami krisis adalah desa-desa yang berada di pegunungan, yang relatif dekat dengan hutan.

 

Diduga, mata air yang dulunya ada mati lantaran alih fungsi hutan. Kini, sebagian besar hutan di Kebumen telah menjadi hutan produksi.

“Mata air di Kebumen tadinya ada. Tetapi, setelah sekian saat, mengecil, kemudian hilang,” kata Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kebumen, Eko Widianto, Kamis (6/9).

Dia mengatakan, desa-desa yang berada di pegunungan ini kehilangan sumber mata air. Pasalnya, terjadi alih fungsi hutan, yang tadinya hutan lindung berubah menjadi hutan produksi.

Menurut dia, sebelumnya, vegetasi hutan di Kebumen merupakan hutan lindung yang lantas berubah menjadi hutan jati. Belakangan, kawasan milik Perhutani ini kembali diubah menjadi hutan produksi pinus.

“Memang kalau melihat kondisi hutan yang ada memang, hutan pinus. Tanamannya juga tidak terlalu baik lah. Itu kan kawasan milik Perhutani. Jadi, sebelum tanaman pinus, memang ada tanaman jati, dan ya kayu tahun lah,” jelasnya.

Dia menerangkan, hingga Rabu 5 September lalu, BPBD telah mendistribusikan sebanyak 622 tangki bantuan air bersih ke desa-desa terdampak. Sebagian besar memang berada di pegunungan. Adapun daerah dataran rendah, relatif bebas dari krisis air bersih.

Menurut dia, alih tanaman jati ke pinus itu diduga mematikan mata air. Sebab, tanaman pinus tak bisa menyimpan air, sebagai tanaman kayu keras lain yang sebelumnya menjadi tanaman utama hutan di Kebumen.

“Tetapi sebagian besar hutan di Kebumen kan sudah diganti dengan pinus, sekarang. Oh iya (berpengaruh terhadap mata air),” ujarnya.

Lebih lanjut Eko mengemukakan, untuk mengembalikan fungsi hutan sebagai penyimpan air, maka vegetasinya mesti berubah. Namun, langkah tercepat adalah warga mulai menanam di kawasan perkebunan miliknya sendiri dengan tanaman kayu keras yang bisa menyimpan air.

“Ya, ini tidak mendiskreditkan Perhutani, tetapi tanaman pinus itu memang tidak bisa menyimpan air,” terangnya.

Diharapkan, kandungan air di dalam tanah akan membuat sebuah kawasan lebih resisten saat dilanda kemarau. Dengan begitu, sumur dan sumber air warga relatif kuat saat terdampak kekeringan jangka panjang.

Eko mengungkapkan, tahun 2018 ini, BPBD Kebumen mempersiapkan anggaran sebesar Rp350 juta untuk bantuan air bersih. Dana ini setara dengan sekitar 2.500 tangki air bersih. Selain BPBD, sejumlah lembaga dan organisasi profesi pun turut membantu pengadaan air bersih.

“Mudah-mudahan cukup untuk membantu masyarakat yang dilanda krisis air bersih hingga datangnya musim penghujan,” imbuhnya.


Reporter: Ridlo Susanto
Editor: Hidayat Adhiningrat P

Hidayat Adhiningrat P.
06-09-2018 16:24