Main Menu

Kedelai Impor Bikin Pengrajin Tahu Tempe Purbalingga Kelimpungan 

Mukhlison Sri Widodo
10-09-2018 16:00

Ilustrasi - Industri pembuatan Tahu dan Tempe. (Dok. GATRA/Dharma Wijayanto/FT02)

Purbalingga, Gatra.com  – Ratusan perajin tahu tempe di Purbalingga, Jawa Tengah saat ini bergantung pada pasokan kedelai impor sebagai bahan bakunya. Akibatnya, mereka tak mampu berbuat banyak jika harga kedelai impor melambung seperti yang terjadi akhir-akhir ini, lantaran melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika.

 

Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dinperindag) Purbalingga, Bambang Sukendro mengatakan dalam satu bulan, rata-rata kebutuhan kedelai bagi 218 perajin di beberapa sentra industri tahu tempe Purbalingga mencapai 100 ton. Sementara, pasokan kedelai lokal hanya mampu memenuhi 30 persen kebutuhan perajin.

“Bahan baku berupa kedelai sebagian besar merupakan kedelai impor dari Amerika Serikat. Harga kedele impor berfluktuatif tergantung pada kurs rupiah terhadap dolar Amerika dan pasokannya. Saat ini harga berkisar pada Rp. 6.500,- s/d 7.000 per kg. Sebenarnya, kedelai lokal cukup bagus untuk pengolahan tahu dan tempe, namun ketersediaan tidak kontinyu,” katanya.

Bambang Sukendro mengatakan, sentra IKM tahu tempe berada di Kelurahan Kalikabong dan Desa Klapasawit, Kecamatan Kalimanah, Desa Selanegara, Kecamatan Kaligondang, Desa Limbangan dan Desa Kutasari di Kecamatan Kutasari, Desa Gandasuli, Kecamatan Bobotsari, Kelurahan Kandanggampang, Kecamatan Purbalingga dan Desa Makam, Kecamatan Rembang.

“Kendala yang dihadapi perajin tahu tempe, selain soal ketersediaan bahan baku kedelai, juga menyangkut teknologi pengolahan, kebersihan dan sanitasi produksi, serta pemasaran,” ujarnya.

Bambang menjelaskan, tempe Purbalingga dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan lokal. Sebab, pasokan kebutuhan tahu dan tempe warga Purbalingga saja masih kurang, sehingga masih dipasok dari luar Purbalingga.

“Upaya promosi produk tahu perlu digalakkan, seperti Kegiatan Pesta Tahu di Kelurahan Kalikabong pada hari Minggu, 3 Desember 2017 kemarin lusa. Produk tahu dapat diolah menjadi beragam makanan, antara lain brownies tahu, puding tahu, sate tahu, pizza tahu, tahu bulat, tahu krispi dan lainnya,” jelasnya.

Dari sisi persoalan teknologi pengolahan, lanjut Bambang Sukendro, pengolahan yang dilakukan masih menggunakan teknologi yang sederhana. Hanya sebagian yang sudah menggunakan teknologi tepat guna, antara lain penggunaan steam boiler.

“Penggunaan teknologi akan meningkatkan efisiensi produksi yaitu dengan hemat waktu, hemat biaya, hemat tenaga namun kualitas produksi lebih baik, lebih higienis serta kuantitas produksinya lebih meningkat,” terangnya.

Menurut dia, higienis dan sanitasi proses pengolahan tahu dan tempe juga masih menjadi permasalahan utama. Sebagian industri tahu dan tempe terkesan kumuh, kurang menjaga kebersihan ruang produksi, serta menghasilkan limbah baik limbah padat maupun limbah cair yang dibiarkan begitu saja.

Dia menambahkan, sebagian limbah masih mempunyai nilai ekonomi, namun apabila tidak ditangani maka limbah akan mencemari lingkungan.


Reporter: Ridlo Susanto
Editor: Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
10-09-2018 16:00