Main Menu

Ribuan Warga Banjarnegara Ikuti Prosesi Hening Gending di Malam 1 Sura

Mukhlison Sri Widodo
11-09-2018 11:06

Hening Gending Tengah Sawah di Desa Pagak, Banjarnegara, Jawa Tengah. (GATRA/Ridlo Susanto/RT)

Banjarnegara, Gatra.com – Ribuan warga Desa Pagak dan sejumlah warga sekitar di Kecamatan Purwareja Klampok Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah mengikuti prosesi peringatan malam 1 Sura atau tahun baru kalender Jawa, dengan acara bertajuk “Hening Gending Tengah Sawah”, Senin malam (10/9).

 

Ketua Kelompok Sadar Wisata atau Pokdarwis Desa Pagak, Riyanto mengatakan prosesi budaya ini merupakan tradisi warga Desa Pagak untuk memperingati tahun baru sekaligus ungkapan Syukur kepada Tuhan YME atas berkah yang melimpah kepada petani.

“Malam hari ini adalah peringatan malam 1 Sura, yang di dalamnya ada beberapa rangkaian acara,” katanya, Senin malam.

Dia menjelaskan, sebagaimana daerah lain di Banjarnegara warga Desa Pagak berprofesi sebagai petani. Sawah, yang digunakan sebagai pusat seluruh prosesi adalah perlambang kemakmuran bagi warga desa. Acara ini juga digelar untuk melestarikan budaya Indonesia, terutama budaya masyarakat Agraris.

Dia menerangkan, acara dimulai dengan mengheningkan cipta untuk mendoakan leluhur pendiri desa Pagak. Kemudian, acara dilanjutkan dengan kirab pusaka yang merupakan peninggalan pendiri dan sesepuh Desa Pagak. 

Puncaknya, masyarakat akan mengikuti Hening Gending Jawa di tengah sawah, yang setiap tembangnya merupakan renungan manusia atas kehidupan di dunia.

“Yang pertama adalah kirab pusaka, dari Desa Pagak. Yang konon katanya, ceritanya, itu adalah peninggalan sesepuh Desa Pagak. Kemudian, prosesi mengirabnya. Dan harapan kami, ke depan, prosesi Hening Tengah Sawah di Desa Pagak ini lebih maju,” jelasnya.

Sementara, tokoh desa sekaligus penggagas acara Hening Gending Tengah Sawah, Sidin Atma Sudirja menerangkan Gending atau karawitan jadi kegiatan inti dalam prosesi peringatan 1 Muharam atau Sura.

Menurut dia, gending bukan sekadar hiburan yang kering arti. Setiap kidung yang dilantunkan berisi ajaran positif jika dihayati. Sebab itu, sebelum kidung didendangkan, pemuka adat menafsirkan setiap tembang yang mengisahkan perjalanan hidup manusia hingga mati. Setiap tembang memiliki watak masing-masing yang mewakili fase perjalanan hidup manusia.

Dia mencontohkan, tembang Maskumambang misalnya, berarti mengambang, menggambarkan bayi yang masih mengambang di perut ibunya. Mijil  berarti muncul atau keluar yang menggambarkan kelahiran bayi. Karena itu, watak lagu ini berciri kasih sayang.

“Kemudian, Sinom berarti muda yang menggambarkan cerita masa muda yang indah, penuh harapan dan angan-angan. Sebab itu, watak lagu ini renyah dan ceria,” kata Sidin.

Kinanthi berarti tuntunan yang menggambarkan masa pembentukan jatidiri dan meniti jalan menuju cita-cita. Ini lah fase ketika remaja beranjak dewasa. Asmarandhana berarti cinta yang menggambarkan masa manusia dirundung asmara.

Dari Asmaradana, lantas gending berlanjut pada Gambuh, yang berarti cocok  dan menggambarkan komitmen manusia yang sudah siap berumah tangga. Kemudian, Dhandanggula berarti kesenangan yang menggambarkan keberhasilan membina rumah tangga dan cita-cita yang tercapai.

Durma berarti sedekah yang menggambarkan wujud rasa syukur kepada Allah atas anugerahnya. Pangkur berarti menjauhi atau menyingkirkan nafsu angkara yang menggerogoti jiwanya. 

Megatruh atau dalam bahasa Jawa "megat roh" berarti keluarnya roh yang menggambarkan terlepasnya roh atau kematian manusia. Karena itu, watak lagu ini nglara atau sedih.

“Pocung atau dalam bahasa Jawa "pocong" menggambarkan kematian manusia sebelum disalatkan, dan siap dikuburkan. Ini lah fase akhir hidup manusia, ketika ia berpisah dari ingar bingar kehidupan dunia,” terangnya.Dia berharap, lewat alunan Gending ini masyarakat bisa melakukan perenungan mendalam tentang apa yang sudah dilakukan untuk sesamanya dan apa yang hendak dilakukan agar bermanfaat untuk warga masyarakat lain.


Reporter: Ridlo Susanto
Editor: Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
11-09-2018 11:06