Main Menu

Imbas Pelemehan Rupiah, Harga Kedelai di Banyumas Naik 20 Persen

Mukhlison Sri Widodo
11-09-2018 11:13

Harga kedelai impor naik (ANTARA/Ari Bowo Sucipto/FT02)

Banyumas, Gatra.com – Harga kedelai impor di Banyumas, Jawa Tengah turut merangkak naik seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat. Menariknya, harga kedelai lokal justru lebih tinggi dibanding kedelai impor.

 

Kepala Bulog Sub-Divre IV wilayah Banyumas, Jawa Tengah, Sony Supriyadi mengatakan saat ini harga kedelai impor berada di kisaran Rp 7.400 hingga Rp 8.500 per kilogram, atau naik antara Rp 1.000 – Rp 2.000 per kilogram dari harga pasaran normal sebelumnya, atau naik kisaran 20% lebih.

Kenaikan harga kedelai ini lantaran industri berbasis bahan baku kedelai mengandalkan pasokan impor. Karenanya, saat dolar naik, harga kedelai pun turut naik.

“Komoditi itu kebanyakan impor langsung dipegang pengusaha-pengusaha yang menyuplai pengrajin-pengrajin tempe,” ujarnya, Selasa (11/9).

Menurut dia, pasokan kedelai lokal tak bisa memenuhi kebutuhan kedelai baik skala lokal maupun nasional. Sebab, kebanyakan petani hanya menanam kedelai di musim kemarau, pada pasca-panen masa tanam ke dua.

Sebab itu, tak ada jaminan ketersediaan kedelai lokal. Jumlahnya pun tak cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan industri.

“Kalau harganya memang naik. Kalau sekarang, kemarin kan, karena harga Dollar karena kebanyakan impor, harganya ikut naik,” katanya.

Padahal, menurut Sony, nilai ekonomi kedelai lokal  justru lebih tinggi dibandingkan kedelai impor. Kedelai lokal dinilai lebih memiliki cita rasa khas, rendemen pati yang tinggi dan lebih segar sehingga tingkat kerusakannya pun rendah.

Saat ini, harga kedelai lokal berharga antara Rp8.500 hingga Rp10 ribu, atau lebih mahal kisaran Rp1.500 per kilogram dibanding harga kedelai impor.

“Itu mengikuti harga atau nilai dolarnya sih. Sekitar Rp7.400 sampai dengan Rp8.500 per kilogram, kalau yang impor. Kalau yang IDN (Indonesia/lokal) malah lebih mahal. Karena lebih fresh sih, itu harganya anyara Rp8.500 hingga Rp10 ribu per kilogram,” jelasnya.

Lebih lanjut Sony mengemukakan, lantaran nilai ekonominya itu, ia pun mendorong agar petani menanam kedelai pasca-musim panen. Dengan begitu, suplai kedelai lokal lebih banyak dan tidak hanya mengandalkan impor.

Dia menambahkan, meski dolar Amerika membumbung tinggi, kebutuhan pokok lainnya cenderung stabil. Beras kualitas medium jenis IR-64 misalnya, berharga sekitar Rp9.400 per kilogram. 

Adapun gula dipatok denan harga ecran tertinggi (HET) sebesar Rp 12.500 per kilogram. “Harga kebutuhan pokok lainnya relatif stabil,” imbuhnya.


Reporter: Ridlo Susanto
Editor: Mukhlison

Mukhlison Sri Widodo
11-09-2018 11:13