Main Menu

Mengenal Metode DEPTH, Atasi Trauma Korban Lombok

Birny Birdieni
12-09-2018 13:58

DEPTH Trauma Healing Korban Gempa di Lombok.(ist/re1)

Artikel Terkait

Jakarta, Gatra.com- Kondisi gempa yang terus melanda Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat bisa meninggalkan beban psikologis berbeda-beda pada setiap korbannya. Mulai dari rasa ketakutan terus menerus hingga akhirnya bisa berujung pada rasa trauma yang dalam.

 

Hal itulah yang akhirnya membuat Tim yang dipelopori Dandiah HR Consultant dan Kantor Biro Psikologi Westaria datang menyambangi korban di Kampung Dangiang, Desa Dangiang Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara pada 16 Agustus hingga 21 Agustus lalu.

Bantuan untuk terapi trauma ini juga turut didukung IKA Fakultas Psikologi Unpad, Himpunan Psikolog (HIMPSI) Jawa Barat, Trailblazer Indonesia, serta berbagai donatur.

Bentuk bantuan itu selain memberikan bimbingan konseling "trauma healing", Tim juga memberikan bantuan berupa air minum, terpal, serta sarung, tenda, dan uang yang berasal dari donatur.

Salah satu tim yang ikut memberikan pendampingan tersebut, Dandi Birdy bercerita bahwa misi tersebut untuk memberikan pendampingan "Trauma Healing" bagi korban gempa Lombok dengan Metode DEPTH (Deep Psy Tapping Technic).

Founder dari DEPTH ini adalah Yuli Suliswidiawati yang sekaligus Direktur Westaria. Melalui metode ini, para korban akan diminta untuk mengetuk titik-titik tertentu. "Sambil dalam kondisi memejamkan mata dan membayangkan kondisi saat dia mengalami gempa," kata Dandi kepada Gatra.com, Rabu (12/9)

Menurut Direktur Dandiah HR Consultant & Associates itu, mereka akan diminta membayangkan kondisi yang dialaminya. Diminta membayangkan perasaannya pada saat itu juga.

Ini dilakukan untuk mengeluarkan rasa takut, cemas, maupun kesal, marah atau apapun. "Dan dia megumgkapkan apa yg ingin dia sampaikan pada saat ini. Harus diungkapkan sambil mengetuk titik titik tertentu," kata Dandi menjelaskan.

Dandi mengungkapkan beberapa situasi gambaran korban di Lombok Utara itu. Misal ada satu anak yang tidak berani mendekati reruntuhan rumahnya yang rusak. Dia merasa ketakutan. Setelah diterapi, dia berani mendekati dan bercerita tentang pengalamannya.

Ada juga anak yang tinggal dengan saudaranya di Lombok. Sang ayah sudah meninggal, sedangkan ibunya bekerja di Kalimantan. Saat gempa dia bingung berlindung kemana.

"Sehingga dia terus berteriak-teriak. Saat diterapi pun teriak paling keras dan lama. Harus mendapat terapi paling lama menghilangkan traumanya," kata Dandi.

Nah Metode DEPTH ini setidaknya sudah dilakukan kepada ratusan orang, baik itu relawan maupun korban. Namun utamanya diberikan kepada para relawan. "Jadi kita ajarin relawan supaya bisa menterapi korban," ujar Dandi.

Mengapa mereka harus diterapi lebih dulu? Sebab sebelum mereka membantu orang lain, harus dipastikan mereka tidak memiliki trauma. "Mereka (relawan) kan selain relawan merangkap korban. Karena mereka juga kena trauma," kata alumni Fakultas Psikologi Unpad itu.

Dandi mencontohkan bagaimana seorang relawan yang mengingau tengah malam saat kondisi tidur, ia kemudian lari sambil berteriak gempa. Padahal faktanya tidak ada gempa. "Ternyata dia mimpi," ujarnya.

Lebih lanjut, Alumni SMAN 2 Bandung itu memaparkan bahwa berkaitan dengan trauma, maka berkaitan dengan memori manusia. Ada dua memori manusia, yakni memori kognitif atau memori somatif.

Jika kognitif merupakan pemikiran yang ada di otak seseorang, sedangkan somatif yang tersisa di badan. "Jadi ketika ada beban emosional yang belum tersalurkan, akan nyisa di titik titik tertentu di badan kita," tutur Dandi.

Nah titik itu, lanjutnya, akan kita ketuk sambil membayangkan perasaan dan emosi-emosi yang dirasakan pada waktu kejadian. Reaksi tiap orang akan berbeda-beda.

"Biasanya ada yang nangis, teriak-teriak, hingga muntah-muntah," ujarnya. Namun setelah itu, biasanya dia akan merasa lega dan bisa mengurangi traumanya.

 

Bahaya Trauma

Nah lalu apa sih bahaya dari Trauma? Dandi menjelaskan bahwa dalam jangka panjang bisa membuat orang merasa tidak berarti. "Istilahnya orang bisa bengong, cengo engga jelas, ga ada semangat," katanya.

Atau dampak buruk lainnya, bisa membuat orang terlalu cemas dan ketakutan. "Nah dengan terapi ini, emosi mereka lebih rilis," ia menekankan. Sebab trauma itu terjadi karena seseorang tidak bisa mengatur beban emosi mereka.

Nah dengan trauma healing ini, mereka bisa mengatur emosinya. "Stressnya ngga kerendahan dan ketinggian. Kalo ketingggian jadi panik, cemas dan takut bisa sampai K.O," katanya.

Sebab managemen stress yang baik itu adalah dalam kondisi sedang. Nah dengan mengajari, maka mereka bisa menterapi diri sendiri. Karena masalah itu pasti akan selalu ada.

 

DEPTH Bisa Diimplementasikan Pada Semua Trauma

Dijelaskan Dandi bahwa pada dasarnya, DEPTH ini bisa diaplikasikan untuk semua jenis trauma. "Jadi pas terapi yang dibayanginnya adalah kondisi yang dia trauma," lanjut pria kelahira Bandung, 6 Agustus 1977 tersebut.

Misalnya trauma karena masalah keluarga, maka dibayangkanlah situasi itu. "Perasaan apa yang ingin disampaikan disitu, keluarkan," ungkapnya.

Menurut Dandi, para relawan itu kini masih mengaplikasikan trauma healing ini ke korban gempa Lombok. "Alhamdulillah orang orang atau relawan yang kita ajarin, masih aktif sampai sekarang melakukan terapi terhadap para korban. Mereka masih setor-setor foto ke kita," katanya.


 

Birny Birdieni

Birny Birdieni
12-09-2018 13:58